Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pemuda Klaten Kenalkan Kesenian Buto Gedruk dalam perayaan Hallowen di Osaka, Jepang

Damianus Bram • Sabtu, 5 November 2022 | 15:00 WIB
PEDE: Deni Ramadhan mengenakan kostum buto gedruk di Kota Osaka, Jepang saat perayaan Hallowen, Sabtu (29/10). (DOKUMENTASI DENI RAMADHAN FOR RADAR SOLO)
PEDE: Deni Ramadhan mengenakan kostum buto gedruk di Kota Osaka, Jepang saat perayaan Hallowen, Sabtu (29/10). (DOKUMENTASI DENI RAMADHAN FOR RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Sebuah video yang memperlihatkan seorang pemuda menggunakan kostum buto gedruk ikut meramaikan perayaan Hallowen di Kota Osaka, Jepang, sempat viral. Pria di balik kostum itu adalah Deni Ramadhan, 23, asal Desa Bendan, Kecamatan Manirenggo, Klaten. Lantas kenapa dia memilih menggunakan kostum buto gedruk?

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

Kali pertama menginjakkan kaki di Jepang pada 2019 ada keinginan Deni Ramadhan, 23, mengenakan kostum buto gedruk. Tetapi hal itu baru terealisasi pada Sabtu (29/10) lalu di saat perayaan Hallowen di Kota Osaka, Jepang. Momen tersebut diabadikan menjadi sebuah video lantas diunggah di media sosial pribadinya.

Video yang memperlihatkan Deni berlarian hingga menari menggunakan kostum buto gedruk di negeri matahari terbit itu mendadak viral. Hingga akhirnya diunggah ulang oleh beberapa akun media sosial lainnya dan mendapat banyak respons.

Tampak dalam video itu Deni yang mengenakan kostum buto gedruk dengan tokoh blegor tersebut menjadi perhatian masyarakat Jepang. Pemuda yang tengah magang kerja di salah satu perusahaan pengolahan logam di Jepang itu melayani banyak permintaan foto. Impiannya untuk menggunakan kostum kesenian dari daerah asalnya di negeri orang akhirnya terwujud.

Saat dihubungi Jawa Pos Radar Solo melalui Instagram, Deni menceritakan jika persiapan yang dibutuhkan sudah cukup lama. Bahkan secara khusus kostum buto gedruk yang dia pakai itu didatangkan langsung dari Indonesia. Dia memesan dan membeli kostum tersebut dari seorang seniman asal Turi, Kabupaten Sleman.

Dia rela merogoh kocek hingga Rp 4 juta untuk membeli dan membiayai ongkos kirim kostum buto gedruk untuk dikirim ke Jepang. Sejak kecil Deni memang menyukai kesenian jathilan hingga gedruk. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat tinggalnya di Klaten.

“Saya juga menyiapkan mental saat hendak menggunakan kostum itu. Soalnya kalau ada suara berisik (dari krincing pada kedua kaki) pasti menjadi pusat perhatian. Saat itu saya juga membawa music box untuk musiknya,” ujar Deni saat di wawancarai Jawa Pos Radar Solo melalui Instagram pada Kamis (3/11).

Dia pun mengaku bangga karena respons positif datang kepadanya selama menggunakan kostum buto gedruk tersebut. Permintaan foto yang cukup banyak membuat dia sampai tidak bisa menarikan gedruk secara maksimal. Meski begitu, dia cukup senang bisa mengenalkan kostum dari kesenian daerah tersebut.

Ada yang menanyakan sosok dan asal kostum yang dipakai Deni tersebut. Dia secara perlahan harus menjelaskan hal itu karena masyarakat Jepang hanya mengetahui soal Bali saja. Padahal di Indonesia juga ada daerah seperti Jawa Tengah yang menjadi asal dari kesenian gedruk tersebut.

Terangkatnya kesenian gedruk hingga akhirnya menjadi pembicaraan orang banyak tak bisa dilepaskan dari teman kerjanya di balik layar. Mereka yang mengabadikan menjadi sebuah video selama dia mengenakan kostum buto gedruk itu dinilai juga memiliki peran.

“Saat memakai kostum buto gedruk ini saya justru begitu dihargai di Jepang. Bangga bisa mengenalkan kesenian dari daerah tempat tinggal saya,” ucap pemuda yang lulusan dari SMK Tunggal Cipta Manisrenggo ini.

Dia pun menegaskan, jika niat awal menggunakan kostum buto gedruk itu merupakan kesenangan pribadi. Meski dia belum sempat bergabung pada kelompok kesenian tersebut, tetapi bisa membawa seni dan budaya dari daerahnya itu agar Jawa Tengah secara khusus bisa dikenal masyarakat Jepang.

“Jangan malu sama budayanya sendiri. Soalnya kalau di luar negeri justru lebih menghargai lebih tinggi. Takutnya kalau dicuri, ditambah kalau tidak ada yang melanjutkan, siapa lagi yang akan melestarikan,” ujar dia. (*) Editor : Damianus Bram
#Perayaan Hallowen #jepang #Deni Ramadhan #Buto Gedruk di Perayaan Hallowen #Osaka #Buto Gedruk #Distributor Rokok Ilegal