Totalitas memproduksi wayang kulit dibuktikan Hernot Sarwani. Meskipun pernah lesu order saat pandemi Covid-19, warga Jalan Parang Klitik I No. 19 RT 03 RW 05 Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan itu tak peduli. Tetap produksi.
“Yang penting tetap semangat. Karena kalau saya berhenti, siapa yang mau melanjutkan. Kalau saya tidak produksi, jangan-jangan malah (wayang,Red) hilang. Anak cucu kita mau lihat wayang kudu ke museum,” ujar pria kelahiran Kota Solo, 13 Mei 1965 itu.
Sebelum 2010, imbuhnya, banyak dalang membeli wayang buatan Hernot minimal satu set berisi 200 karakter wayang kulit dengan harga sekitar Rp 260 juta.
“Sekarang, yang banyak membeli para kolektor. Per karakater saya lepas Rp 1,3 juta hingga Rp 2,5 juta. Tergantung ukuran dan kerumitan pembuatan. Kalau yang pakai cat emas asli, saya lepas dua kali lipat,” tuturnya.
Hernot mulai fokus menekuni pembuatan wayang kulit sejak 1990. Keterampilannya semakin terasah setelah belajar dengan Parto Katimin, empu pembuat wayang asal Kleco, Sukoharjo.
Dalam membuat satu karakter wayang kulit, dibutuhkan waktu sekitar dua pekan. Tahapannya, pertama memilih kulit kerbau yang tanpa cacat. Berlanjut membuat mal, dan sebagainya.
Kini, Hernot memanfaatkan internet untuk memasarkan produk wayang kulitnya. Konsumennya pun semakin luas, dari Bandung, Jakarta, Bogor, Medan, dan kota-kota besar lainnya.
“Sedikit banyak pesanan tetap disyukuri. Karena itu sudah jalan Yang Maha Kuasa, rezekinya dari (membuat) wayang kulit,” katanya,
Terpisah, Margono, owner Sanggar Wayang Gogon menerangkan, tantangan eksistensi wayang kulit adalah bagaimana seorang dalang bisa berinovasi membuat cerita dengan tetap berpatokan pada pakem.
"Misalnya Dasamuka dibunuh oleh Rama, tidak bisa diubah, Dasamuka mati dibunuh Gunawan Wibisono. Nggak boleh seperti itu. Pakem tetap pakem, dasar dalam cerita. Cuma inovasi bisa sesuai imajinasi masing-masing dalang," ujarnya.
Tantangan kedua adalah mengenalkan kesenian tradisional sejak dini. Sebab itu, Margono selalu semangat mengajak murid TK hingga SMA untuk terlibat langsung berkesenian. Di antaranya berlatih menjadi dalang.
“Seorang anak yang tampil bermain wayang, minimal kedua orang tuanya pasti menonton pertunjukkannya. Kemudian nanti saudaranya, teman sekolah dan dirumah, belum lagi tetangga, sehingga semakin banyak yang mengenal wayang," paparnya.
Soal perhatian Pemkot Surakarta, Margono menuturkan, pihaknya difasilitasi tempat di gedung sentra IKM Kreatif Semanggi untuk membina anak-anak berkesenian. (atn/wa/dam) Editor : Damianus Bram