A. CHRISRIAN, Solo, Radar Solo
Seorang pria berpakaian batik dengan tutup kepala bermotif batik juga sedang sibuk mendampingi anak-anak berlatih wayang. Anak-anak ini memang sedang persiapan untuk tampil di acara kirab budaya dalam rangka menyemarakan Hari Wayang Nasional di Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Semanggi.
Dengan telaten dia membimbing para anak usia SD hingga SMP. Menyelaraskan gerak tari hingga membenarkan ketukan gamelan. Terik matahari tak menyurutkan semangat anak-anak ini untuk berlatih.
"Maaf mas kalau agak lama. Anak-anak masih harus dipoles dulu," ujar Margono membuka obrolan siang itu
Margono bercerita fokus melatih para anak ini sejak 2008, setelah dia di wisuda dari Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. "Saat lulus itu saya lihat kok minat anak untuk melestarikan kebudayaan masih minim. Kalau ini dibiarkan, ke depan seperti apa," ujarnya.
Melihat fenomena itu Margono lantas berpikir mencari cara agar anak-anak ini mau berkesenian, terutama wayang. Saat itu regenerasi dalang sangat minim.
“Dari situ saya berpikir, kalau tidak sekarang, kapan lagi. Maksudnya kalau tidak dari sekarang kita siapkan bibit dalang, kapan akan muncul generasi dalang yang baru," urainya.
Margono lantas membentuk Sanggar Wayang Gogon. Lokasinya berada di Jalan Halilintar No. 140, RT 03 RW 10, Kentingan, Kelurahan/KecamatanJebres. Di sini menjadi cikal bakal lokasi dia menggembleng para anak untuk belajar soal seni budaya.
"Awalnya sulit juga menarik minat para anak. Mungkin mereka menganggap wayang itu kuno, ketinggalan zaman dan lain sebagainya. Akhirnya saya cari cara bagaimana caranya agar mereka mau ikut melestarikan wayang," tuturnya.
Margono lantas mencoba mengajak segelintir anak membuat wayang kulit. Ternyata strategi ini cukup ampuh. Anak-anak ini mengajak teman-temannya yang lain. Lama kelamaan, anak-anak yang mengikuti binaan semakin banyak. Mulai dari umur TK bahkan perguruan tinggi, didominasi usia SD hingga SMP.
Setelah cukup banyak, barulan Margono mengajarkan seni lainnya, seperti tari, karawitan, bahkan pedalangan. Saat ini paling banyak anak-anak ini malah berminat menjadi dalang. "Dari situ, saya lega, dalang tidak akan mati, banyak penerusnya," ujarnya.
Atas kegigihanya, pada 2016 dia digandeng Dinas Koprasi dan UMKM Kota Surakarta untuk mengembangkan potensi anak-anak. Hingga pada 2019 dia mendapat ruang di gedung Sentra IKM Semanggi menjadi sanggar keduanya. "Menyusul di Karanganyar untuk sanggar ketiga," ucap Margono
Margono juga tidak sendiri dalam melakukan pembinaan. Dia mendapat bantuan dari siswa-siswa SMK Negeri 8 Surakarta dan para mahasiswa dari beberapa kampus.
"Jadi saya sekarang tinggal mengawal saja agar kegiatan ini terus berjalan. Harapan saya ini terus berlanjut sehingga nanti ketika para anak-anak ini sudah dewasa, mereka tidak kehilangan jati diri," ujar dia. (atn/bun) Editor : Damianus Bram