Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Eksistensi Perajin Sapu dan Tambang Ijuk di Desa Manggis, Mojosongo, Boyolali

Damianus Bram • Kamis, 10 November 2022 | 15:30 WIB
TELATEN: Warga di Dusun Jantung, Desa Manggis, Kecamatan Mojosongo, Boyolali tengah membuat sapu ijuk. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
TELATEN: Warga di Dusun Jantung, Desa Manggis, Kecamatan Mojosongo, Boyolali tengah membuat sapu ijuk. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Home industry sapu ijuk menjadi ikon bagi Desa Manggis, Mojosongo, Boyolali. Eksistensi bisnis tumbuh, dan terus dikembangkan beberapa warga sekitar masih turun temurun.

RAGIL LISTYO, Boyolali, Radar Solo

Pembuatan sapu ijuk, tongkat sapu, maupun tambang menjadi sumber penghidupan warga Desa Manggis. Bahkan eksistensi pengrajin di daerah tersebut sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Ada 200 lebih perajin sapu ijuk saat ini di Desa Manggis.

Saat Jawa Pos Radar Solo memasuki Desa Manggis dari arah barat melalui Dusun Jantung. Di teras-teras rumah warga tumpukan ijuk basah membumbung tinggi. Salah satu keluarga terlihat tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang terlihat mengurai ijuk dan merapikannya. Ada pula yang menyisir agar terurai dan terpilah kualitas yang bagus. Ini dilakukan dengan cara ditaruh di atas kayu dengan banyak paku, kemudian ditarik. Ada pula sosok lain yang terlihat fokus merajut ijuk ke dalam lakop atau tempat ijuk berbentuk jemari pada sapu. Hampir di setiap rumah, ibu-ibu, ataupun bapak-bapak dengan telaten merajut ijuk ke dalam lakop sapu.

Sentra pembuatan sapu ini menyebar di beberapa dusun. Dari Dusun Jetis, hingga Dusun Dawar. Di Dusun Dawar, tak hanya fokus pembuatan sapu, mereka juga membuatkan tongkatnya. Tak hanya itu, sepanjang Jalan Boyolali-Klaten toko-toko alat pembersih rumah berjejeran. Mulai dari sapu lantai, sapu untuk membersihkan atap rumah, sapu kosek, tambang ijuk, dan jenis lainnya.

Salah seorang perajin sapu ijuk asal Dusun Jantung, Manggis Sumini, 57, mengakui, telah membuat ijuk sejak usia 22 tahun. Keterampilannya ini didapat dari sang suami yang juga perajin sapu ijuk. Awalnya, dia hanya bisa membuat tambang ijuk. Namun, pasca menikah, dia dan suaminya menjadi perajin sapu. Kegiatannya ini sudah menjadi aktivitas harian.

Berbekal celemek berwarna krem, dan gunting, satu persatu lembaran ijuk basah dari pohon kolang-kaling diambil. Lembaran ijùk diletakan di atas kayu dengan dua paku besar. Kemudian ditariknya. Tujuannya untuk menguraikan ijuk dan merapikannya dengan gunting. Tak pelak, lembaran ijuk mulai terurai kecil-kecil. Yang langsung diambil pekerja lainnya.

"Kalau sudah diurai begini, langsung disisir biar terpilah. Antara ijuk yang bagus, panjang-panjang buat sapu. Dan yang kecil-kecil begini bisa untuk tambang. Kalau yang sisa-sisa jelek bisa digunakan untuk filtrasi resapan," jelasnya di sela proses penguraian ijuk, Rabu (9/11).

Ijuk bagus akan dijemur agar memudahkan penganyaman. Jika ijuk bagus sudah banyak, tak jarang Sumini akan membawa pulang. Menganyamnya di rumah sebelum masuk waktu tidur. Dalam sehari, dia bisa membuat 100 biji sapu tanpa tongkat. Perbijinya dijual dengan harga Rp 5 ribu. Saat ditemui di rumahnya, dia mengakui tengah mengerjakan paket borongan. Pesanan sapu mencapai empat sampai lima ribu biji setiap bulannya.

Dia mengakui, ada juga pengepul di desanya. Biasanya sekali ambil bisa seribu biji tiap minggu. Sedangkan bahan baku ijuk hitam diambil dari Semarang, berbentuk lembaran panjang yang terkadang masih basah.

Perajin sapu lainnya, Sriyanto, 57, mengakui, sudah membuat sapu sejak belia. Dia diajarkan dari ayahnya yang juga diturunkan dari sang kakek. Sentra home industry sapu ijuk memang sudah dilakoni warga lokal sejak sebelum kemerdekaan. Warga mengandalkan hidup dari penjualan sapu ijuk tersebut sudah sejak lama.

"Di sini memang rata-rata pembuat sapu ijuk. Hampir setiap rumah digunakan untuk produksi. Kadang produksinya di belakang rumah biar gak ngotori teras. Kalau perajinnya, ada seratusan kepala keluarga (KK). Memang sudah dari zaman mbah-mbah, dari saya kecil sudah nemenin bapak bikin ini (sapu ijuk)," terangnya.

Di dusunnya, rata-rata hanya membuat anyaman ijuk pada lakop. Sedangkan pemasangan tongkatnya akan dikerjakan pembeli lainnya. Itupun sudah mendapatkan keuntungan cukup. Karena satu biji lakop sapu senilai Rp 5 ribu. Tak hanya itu, ijuk bisa dimanfaatkan beberapa hal. Kalau kualitas bagus bisa digunakan untuk sapu. Jika terlalu pendek bisa digunakan untuk pembuatan tali tambang ijuk. Sedangkan jika kualitas jelek, yakni ijuk yang kotor bisa dimanfaatkan untuk filtrasi resapan septic tank. (*/nik) Editor : Damianus Bram
#Desa Manggis #Perajin Sapu Ijuk #home industry #Sapu Ijuk #Tambang Ijuk