Di sudut halaman rumah Herry Subeno di Jalan Mayjend Sutoyo No 49, Wonokarto, Wonogiri lebih terang dari biasanya. Ada bohlam berukuran 5 watt yang menyala full 24 jam.
Bohlam tersebut menerangi lokasi yang digunakan untuk mengubur ari-ari buah hati Herry. “Ari-ari adalah saudara kembarnya bayi yang lahir. Karena itu perlu di-rumat,” terangnya akhir pekan kemarin.
Menurutnya, dengan mengubur adalah cara terbaik dalam merawat ari-ari. Alasannya rasional, agar tidak menjadi sumber bau atau dimangsa hewan. Terkait fungsi penerangan, Herry menjadikannya sebagai perlambang agar jabang bayi dan ari-arinya selalu diberi pepadang (penerang) dalam menjalani kehidupan.
Terpisah, dosen program studi (prodi) Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Sigit Purwanto Siklun menjelaskan, lahirnya bayi merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang harus disyukuri.
Bagi masyarakat Jawa, bentuk syukur diwujudkan dengan menggelar upacara adat. Salah satunya merawat ari-ari dan mencuci jarit yang dipakai saat melahirkan.
“Dalam kebudayaan Jawa, ari-ari disimbolkan sebagai seorang adik, kemudian kawah (air ketuban) disimbolkan sebagai kakak. Untuk bayi disimbolkan sebagai pancer,” ungkapnya.
Artinya, lanjut Sigit, penting memperlakukan ari-ari dan kawah dengan baik. Hal tersebut dianggap sebagai bentuk etika manusia menghargai peran ari-ari (plasenta) dalam memberi makan bayi sewaktu di dalam kandungan, dan kawah (air ketuban) dalam membantu bayi tetap hidup di dalam kandungan.
Cara merawat ari-ari juga beragam. Ada yang dikubur di dekat rumah, menyimpan di dalam kendi lalu digantung pada langit-langit rumah, maupun dilarung ke sungai atau laut.
“Sesuai kepercayaan masyarakat Jawa, bentuk perlakuan pada ari-ari memiliki makna berbeda. Kalau disimpan, maka ari-ari ini akan lebih dekat dan selalu menemani sang bocah. Berbeda jika dilarung, maka suatu saat si anak akan suka berkelana,” papar dia.
Sementara itu, Gunawan, sesepuh Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo menuturkan, plasenta pada dasarnya merupakan sumber kehidupan bagi janin di kandungan. Saat lahir, plasenta sudah tidak digunakan oleh janin, karena oksigen dan asupan makanan sudah bisa didapat dari luar kandungan. Karena itu, ari-ari harus dipotong.
Nah, potongan plasenta ini tidak dibuang begitu saja. Tapi dirawat dengan cara dikubur, dilarung, atau disimpan di dalam kendi.
“Menguburnya tidak seenaknya. Biasanya di depan rumah. Setelah itu diberi penerangan berupa lampu. Lokasi tempat mengubur ditutup menggunakan wadah agar tidak dibongkar hewan,” bebernya.
Untuk ari-ari yang disimpan di dalam kendi, biasanya disertakan tulisan aksara jawa berisi harapan ketika buah hati telah dewasa. Semua perlakuan tersebut mengandung makna dan pesan filosofis.
Di antaranya lampu penerangan, diharapkan dalam kehidupannnya kelak, bayi selalu mendapatkan pencerahan. Dalam cerita pewayangan, imbuh Gunawan, ari-ari merupakan simbolis dari raga yang sebenarnya. Tugasnya memberikan perlindungan kepada bayi yang baru lahir hingga dewasa.
Dikisahkan terdapat raksasa bernama Jayajatra yang sebenarnya merupakan ari-ari daripada Werkudara. ”Jadi ari-ari itu istilahnya merupakan dobel-an nyawa dari jasad yang sebenarnya. Kepercayaannya seperti itu, selebihnya wallahualam,” tutur dia. (mg1/mg2/mg3/wa) Editor : Damianus Bram