Dua jenis dan tersebut adalah frond atau tanduk dan shield sebagai perisainya. Frond berperan untuk aktivitas fotosintesis dan membuat spora sebagai alat perkembanganbiakannya. Sedangkan bagian shield untuk menciptakan media yang mendukung kehidupan mereka.
”Contohnya, menangkap air hujan dan bahan-bahan organik yang jatuh di atasnya. Untuk kemudian diproses menjadi nutrisi. Shield yang masih hijau juga berfungsi untuk fotosintesis,” ungkap pecinta Platycerium Santosa kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (9/12).
Santosa yang punya berbagai jenis Platycerium mengamati bentuk shield dan frond berbeda-beda kendati dari jenis yang sama. Untuk jenis Platycerium tertentu, keunikan lain adalah mereka bisa bertahan hidup tanpa air selama berbulan-bulan saat musim kemarau.
”Tanaman ini asalnya dari beberapa benua dan kepulauan beriklim tropis. Seperti Asia Tenggara, Australia, Afrika termasuk Madagaskar, dan Amerika Selatan,” jelasnya.
Meskipun tanaman ini bisa hidup menempel di mana saja, tapi bukan berarti Platycerium bisa asal tempel. Santosa menyarankan Platycerium ditanam langsung di pohon. Keuntungannya hemat pupuk, air, dan media tanam. Tapi penempatan di pohon pun juga perlu diperhatikan. Mulai dari ketinggiannya, pencahaannya, dan kondisi pohonnya.
”Ada beberapa hal yang wajib diperhatikan. Misalnya, menjaga agar shield tidak terlalu jenuh dengan air, kebutuhan sinar matahari dan nutrisi. Periksa juga kesehatan tanaman, hama, jamur dan organisme pengganggu tanaman. Penempatan tanaman juga mempengaruhi kondisi tanaman secara keseluruhan,” bebernya.
Apakah ada treatment khusus merawat Platycerium? Santosa menyebut terpenting cukup air dan cukup sinar. Tapi jika ingin menampilkan performa shield yang lebih gagah sekaligus frond yang lebih kekar, Platycerium bisa ditempatkan menghadap ke timur atau barat. Namun tetap terlindung dari paparan sinar matahari di jam-jam terik.
”Bisa juga diletakkan di bawah paranet dan plastik UV untuk mendapatkan pencahayaan yang optimal. Tapi kalau ingin daun yang lebih panjang, lebih tipis, dan menjuntai seperti tirai, tempatkan di bawah naungan dengan pencahayaan kurang dari 40 persen. Di tempat teduh, warnanya lebih gelap, tapi di tempat panas warnanya justru lebih terang,” terangnya.
Platycerium punya 18 spesies asli yang tersebar di seluruh dunia. Mulai dari Asia Tenggara ada holttumii, wallichii, coronarium, ridleyii, willinckii (Java staghorn), grande, wandae, hillii. Di Australia ada bifurcatum, veitchii, dan superbum. Di Afrika dan Madagaskar ada elephantotis, stemaria, alcicorn, ellisii, quadridichotomum, dan madascariensis. Dan di Amerika Selatan ada satu-satunya spesies di benua itu, yaitu andinum. Belum lagi ada hibrid hasil dari persilangan antarspesies dan mutasi genetiknya yang memiliki bentuk antimainstream.
Ridleyii disebut sebagai salah satu spesies yang paling sulit perawatanya. Jika terlalu basah bakal busuk. Sebaliknya terlalu kering mati. Santosa mengatakan enam bulan pertama adalah masa hidup-mati ridleyii yang baru tanam. ”Dia suka banyak sinar, kelembaban, dan ketinggian serta angin,” imbuhnya.
Soal hama, siput, kutu, bongkang, kecoa, dan ulat bulu yang sering menyerang Platycerium. Tapi tak jarang jamur, virus, atau bakteri juga ikut mengganggu. Masalah lain yang kerap muncul antara lain berawal dari pemilihan media yang kurang sesuai, cara penempelan yang kurang baik, penempatan Platycerium yang kurang pas, dan ketidaktahuan akan karakter Platycerium yang ditanam.
”Solusinya, pilih media yang sesuai, benahi cara penempelan, dan pindah lokasi yang lebih baik,” tandasnya. (aya/adi) Editor : Damianus Bram