Bumerang menjadi senjata yang memiliki keunikan dari sisi bentuk. Ketika dilempar ke sasaran, senjata tersebut bisa berputar kembali ke arah pelempar.
Bumerang memang sangat dikenal di dunia internasional karena keunikannya tersebut. Salah satu pembuat bumerang yang produknya disukai pecinta bumerang luar negeri adalah hasil karya Koko Handoko, 42. Warga Dusun Sendangmulyo, Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen ini rutin membuat bumerang dengan berbagai bentuk dan motif.
Karena efek pandemi Covid-19, Koko yang sebelumnya bekerja di bengkel custom sepeda motor di Bali ternyata beralih profesi.
Dia memilih pulang ke Sragen, karena kena imbas pandemi saat bekerja di Bali.
”Di Bali 3 tahun. Ngerjain motor-motor custom pesanan. Terus pandemi akhirnya kena dampak, otomatis Bali paling parah. Akhirnya pilih pulang ke Sragen,” ujarnya.
Saat masih tinggal di Bali, dia sering jalan-jalan dan main ke galeri seni. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah bumerang yang dipajang.
”Jadi ke galeri nyari inspirasi dan ide, kira-kira apa yang bisa dimanfaatkan. Eh nemu bumerang, tapi cuma pajangan, nggak bisa balik sendiri kalau dilempar,” jelasnya.
Hingga saat nganggur di Sragen, dia teringat soal bumerang yang bentuknya unik yang sempat dia lihat di Bali.
Akhirnya dia iseng membuatnya. ”Belajar buat sebisanya. Karena penasaran juga, ada sains yang nulis kenapa bumerang bisa balik sendiri. Kalau orang nggak tahu, pasti mikirnya karena magic. Ternyata ada rumus, teori, dan macam-macamnya,” ujar Koko.
Dia melihat jika bahan bumerang tradisional dari bahan alam, semacam kayu, akar tumbuh-tumbuhan, ranting, dan sebagainya. Selama lebih dua minggu, dia mencoba membuat bumerang, namun hasilnya tidak bisa balik ke arah pelempar.
”Jadi cukup lucu, selama saya bikin itu disangka depresi. Pulang dari Bali, terus nganggur. Karena orang di desa lihatnya saya habis lempar kayu, trus diambil lagi. Lalu dicari lagi. Ya maklum karena nggak tahu (teknik buat yang tepat agar bumerang bisa kembali ke pelempar). Disangka orang, saya gila. Tapi karena itu malah jadi seru,” guraunya.
Sampai akhirnya dia bisa membuat bumerang yang berhasil balik lagi ke pelempar. Dia sangat senang karena akhirnya berhasil, namun masih memakai bentuk bumerang standar.
Karena punya skil untuk berkreasi, akhirnya Koko mencoba membuat bumerang dengan desain bentuk lainnya yang lebih estetik. Saat itu dia sama sekali belum tahu bahwa ada komunitas di Indonesia. Bahkan ada komunitas besar tingkat dunia yang membuat bumerang.
”Saat itu belum tahu aja ada komunitasnya. Jadi kayak iseng nggak sengaja. Coba-coba ngisi waktu sambil gerak olahraga,” terang Koko.
Lantas sudah bisa menguasai teori membuat bumerang, Koko mulai menggunakan beragam macam bahan baku. Kalau dari akar atau kayu variasi bentuk terbatas. Kemudian dia mencari sumber bahan baku dan mendapati banyak bahan yang bisa dipakai. Mulai dari plastik plywood, carbon dan sebagainya.
Setelah cukup PD dengan hasil karyanya, akhirnya dia coba ungguh di akun Facebook miliknya. Ternyata ada yang langsung menawar, cukup mengejutkan buatnya karena itu berasal dari Jerman. Padahal saat itu, dia baru bisa membuat tiga buah bumerang.
”Mungkin dia dari komunitas bumerang belum pernah lihat desain yang saya buat, jadi kelihatan unik,” ucapnya.
Dia ditantang untuk buat beberapa bumerang. Karena tengah menganggur, dia akhirnya tak pikir panjang untuk membuat enam bumerang yang dipesan.
”Karena butuh pemasukan juga. Meski nggak semudah yang dibayangkan. Karena satu desain bisa tiga kali gagal, nggak mesti bisa balik lagi juga,” paparnya.
Setelah barang jadi, Koko mengirim foto dan video pada konsumennya. Lantas konsumennya itu suka dan bersedia membayar. Harganya pun Koko mengaku belum tahu. Dia justru bertanya pada konsumennya tersebut, tidak disangka konsumennnya berani bayar mahal produknya. Yakni USD 70 atau sekitar Rp 1 juta.
”Pikir saya Rp 500 ribu sudah cukup mahal. Malah dihargai paling tinggi, USD 70. Lumayan juga itu, worth it. Saya akhirnya kirim ke Jerman,” ujarnya.
Tidak disangka ternyata pembeli pertamanya tersebut adalah ketua komunitas bumerang dunia. Produknya direkomendasikan dan makin dikenal. Sebagian besar konsumen dari Eropa, Australia, dan Kanada pernah pesan bumerang buatannya. Bahkan beberapa konsumen datang ke Bali untuk bertemu. Salah satunya adalah warga dari Prancis yang ingin melihat hasil karyanya.
”Jadi kalau bule itu sangat menghargai copyright, atau hak cipta. Kalau bikin pakai desain orang mereka nggak mau. Buatan saya juga nggak niru orang. Paling terinspirasi, idenya dikombinasi sendiri,” ucapnya.
Saat ini dia memang banyak menjual hasil karyanya ke luar negeri. Harganya pun dibandrol antara USD 40-70, atau sekitar Rp 600 ribu-Rp 1 juta. Konsumennya sebagian besar dari Eropa. Sedangkan konsumen dalam negeri sendiri menurutnya tidak banyak.
”Hanya ada beberapa teman saja. Kalau bule suka bumerang kenapa, ya saya nggak tahu. Mungkin karena lifestyle mereka juga,” pungkasnya. (din/nik) Editor : Damianus Bram