SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Suara lantang belasan siswa SD Tripusaka yang tengah asyik menyanyikan lagu keagamaan Khonghucu memenuhi ruangan utama Litang Gerbang Kebajikan kemarin. Mereka menyimak penjelasan sang guru agama sembari meneladani ajaran-ajaran dari Nabi Kong Zi.
Rohaniawan Agama Khinghucu WS Adjie Chandra mengatakan, aula utama yang difungsikan sebagai ruang peribadatan itu juga digunakan untuk pembelajaran. Ini sesuai dengan makna kata Li yang artinya pelajaran dan Tang yang bisa diartikan dengan aula.
"Litang ini jadi tempat untuk belajar dan bisa juga untuk kebaktian (melakukan kegiatan keagamaan). Jadi beda dengan kelenteng. Kalau klenteng kan hanya untuk sembahyang saja. Kalau litang bisa untuk belajar dan melakukan persembahyangan," terang dia.
Pimpinan Litang Gerbang Kebajikan ini pun mengenalkan rumah ibadah seluas 400 meter persegi itu. Sejatinya, litang merupakan satu kesatuan dengan bangunan yang ada di kelenteng (rumah ibadah tiga agama yakni Budha, Tao, dan Konghucu). Begitu juga dengan Litang Gerbang Kebajikan awalnya merupakan bagian dari Kelenteng Tien Kok Sie di selatan Pasar Gede.
Konon pendiri Kelenteng Tien Kok Sie terkendala area yang sempit hingga akhirnya litang itu harus dibangun di lokasi terpisah. Keterkaitan antara Litang Gerbang Kebajikan dengan Kelenteng Pasar Gede bisa dibuktikan dari pengurus yang bergantian atau merangkap dalam pengelolaan kelenteng dan litang yan jaraknya tidak sampai lima kilometer itu.
"Litang ini harusnya lokasinya jadi satu dengan kelenteng. Namun karena kelenteng Pasar Gede terbatas, leluhur kelenteng membuat lithang di lokasi ini. Kalau dihitung usianya saat ini sekitar 105 tahun. Mulai digunakan untuk peribadatan sejak 1918 silam," kata Adjie.
Meski berusia lebih dari 1 abad, bangunan Litang Gerbang Kebajikan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Sejauh mata memandang perawatan satu-satunya rumah ibadah khusus agama Khonghucu di Solo dan sekitarnya ini sangat baik.
Dari depan, gerbang utama yang tingginya lebih dari 6 meter itu masih berdiri tegak sebagai pintu masuk utama umat yang hendak melakukan peribadatan di dalamnya. Setelah masuk pintu gerbang, kami akan disuguhkan dengan bangunan utama litang yang bentuknya mirip joglo namun dengan dinding-dinding yang tertutup. Konon ornamen dan bangunan ini masih asli sejak didirikan 1918.
"Kusen, kayu pintu dan jendela ini masih asli. Begitu juga kursi-kursi untuk jemaat. Perbaikan paling di cat ulang saja. Perabotan lainnya juga masih asli seperti arsa suci dan lainnya. Kalau perbaikan besar baru sekali dilakukan pada 2019 lalu untuk penggantian atap dan tiang penyangga. Selain itu masih asli semua," kata dia.
Keaslian bangunan litang bukan hanya dari segi bangunan rumah ibadahnya saja. Ornamen-ornamen berupa huruf Mandarin dan relief Qilin (mahluk suci tubuh kuda dengan kulit bersisik serta kepala dan ekor berbentuk seperti naga, Red) juga masih dijaga keasliannya.
Keaslian aksara Mandarin dan relik itu melengkapi keindahan sang arca suci dengan sosok Nabi Khonghucu tersebut. Sayangnya meski sudah berusia 1 abad sampai saat ini bangunan ini belum masuk cagar budaya. Padahal jika berstatus cagar budaya, perawatan litang bisa lebih termonitor dan terpelihara dengan lebih baik ke deoan.
Selain itu bisa memastikan warisan sejarah dari nenek moyang itu tetap eksis hingga ratusan tahun ke depan. Sebab itu perlu upaya dan campur tangan pemerintah agar Litang Gerbang Kebajikan bisa berstatus bangunan cagar budaya.
"Status tanah di sini (SD Tripusaka dan litang) masih HGB (hak guna bangunan). Kami sedang upayakan agar bisa jadi hak milik,” ujar dia.
Kalau soal perhatian pemerintah, Adjie mengatakan, sejak era wali kota hingga Jokowi menjadi presiden memang ada bantuan perawatan yang cukup membantu.
“Tapi harapan kami ke depan masuk BCB, karena sekolahnya sudah di-BCB-kan. Harusnya yang BCB itu litangnya karena bangunannya masih banyak yang asli. Kami harap kedepan keinginan ini bisa terealisadi karena litang ini satu-satunya di Solo dan sekitarnya. Paling dekat dari Solo ada di Kutoarjo," ujar dia. (*) Editor : Damianus Bram