A CHRISTIAN, Radar Solo, Solo
Kesamaan hobi bisa menjadi salah satu alasan mereka berkumpul membuat sebuah komunitas. Meski berbeda latar belakang, baik sosial maupun pendidikan. Sama-sama memiliki rasa penasaran dan kepedulian tentang sejarah, sekelompok anak muda ini membentuk Solo Societeit. Tepatnya pada 2018.
"Banyak dari disiplin ilmu terapan yang lain dikomunitas ini, tapi karena kesamaan kecintaan terhadap budaya di Solo, akhirnya kami ketemu, terus sepakat membentuk komunitas ini. Anggotanya lintas generasi, memang didominasi mahasiswa, kemudian dosen, pekerja umum, perawat, guru dan lain sebagainya," ujar Ketua Solo Societeit Dani Saptoni.
Komunitas nirlaba ini tetap bisa bergerak secara mandiri tanpa embel-embel sponsor. Hal ini karena idealisme mereka di mana komunitas ini sebagai wahana untuk belajar bersama. Semua orang bisa masuk untuk mempelajari sejarah dengan menerapkan kajian ilmiah di setiap riset yang dilakukan.
"Jadi kami berusaha memberikan wawasan yang benar tentang sejarah, adat dan budaya Solo. Apalagi kebiasaan orang Jawa, biasanya disambungkan dengan yang tidak logis. Tapi kalau kami memahami dengan benar, simbol budaya yang benar tentang sejarah Solo. Untuk membuat satu velue yang kami pakai untuk kemajuan hidup bersama," papar Dani
Ya, memang saat akan menyusuri suatu wilayah tertentu, tim akan terlebih dahulu melakukan riset. Baik secara literasi, pengecekan lokasi, hingga wawanncara langsung dengan sumber di lokasi. Kemudian hasil riset akan digodok, setelah itu keluar baru menjelajahi lokasi bersejarah itu. Hal ini dilakukan agar bisa mempertanggungjawabkan apa yang di-share kepada anggota.
Untuk kunjungan ke tempat-tempat sejarah, lanjut Dani, dulu memang agendanya minimal sebulan sekali. Tapi karena terkadang anggota yang ikut tidak komplit, akhirnya dijadwalkan dua sampai tiga bulan sekali.
"Tapi kami membentuk divisi baru, yaitu berjalan bercerita, di mana teman-teman yang meminta kuantitas perjalanan sejarah di suatu kawasan bisa sebulan sekali atau seminggu sekali,” ujar dia.
Dari beragam kunjungan yang paling berkesan, menurut Dani, ketika berkunjung ke Kepatihan Keraton Kasunanan Surakarta, tepatnya kantor Sosronegaran. Karena setelah beberapa pekan kunjungan, lokasi yang mereka datangi ini tiba-tiba dihancurkan.
"Kami waktu itu bersyukur karena masih sempat mengunjungi bangunan itu saat masih berdiri. Tapi di sisi lain kami juga sedih karena Kota Solo yang selalu menggembar-gemborkan heritage, bangunan itu diabaikan. Semua pihak menutup mata. Baru setelah dihancurkan muncul koar-koar. Sikap-sikap seperti itu yang berusaha kami hindari," ujar Dani.
Bangunan Sosronegaran kala itu belum ditetapkan sebagai BCB, tapi banyak mengandung nilai sejarah. Di mana banguan itu merupakan satu-satunya bangunan perkantoran Kepatihan Keraton Surakarta Hadiningrat yang masih berdiri.
"Sosronegaran itu diambil dari nama patih di era PB IX, kemudian sempat menjadi tempat menyimpan barang berharga sebelum ada Museum Radya Pustaka. Saat dibongkar ada brankas, temboknya dilapisi besi baja. Ini menegaskan temuan kami itu tempat sangat bersejarah. Tapi kemudian dihancurkan," ujar Dani.
Berkaca dari itu, semakin memberi semangat kepada anggota Solo Societiet untuk semakin mendalam dalam mempelajari sejarah-sejarah di Kota Bengawan. Sekaligus ikut melestarikan karena ini merupakan aset yang tidak ternilai harganya. (*/bun) Editor : Damianus Bram