Cara tersebut juga diterapkan Fransiskus Arinta Julianto kepada cucak ijo kesayangannya.
"Mabung biasanya setiap tiga bulan sekali. Ini merupakan saat yang tepat untuk memaster burung. Diharapkan cucak ijo dapat lebih cepat merekam kicauan burung lain,” ujar Rinto, sapaan akrab Fransiskus Arinta Julianto, Jumat (3/2/2023)
Saat mabung, imbuh warga Kampung Cemani Baru RT 03 RT 14 Cemani, Grogol, Sukoharjo itu, burung akan sering berdiam diri, karena itu cocok untuk pemasteran.
“Biasanya saya pakai MP3 karena suaranya lebih konsisten. Kicaunya bisa terus nyambung dan hasilnya sempurna. Kalau langsung dari burung lain, kadang bunyinya tidak stabil. Ya ada jedanya berkicau,” beber dia.
Sementara itu, agar proses mabung bisa dilewati dengan baik, Rinto tidak memandikan dan mengurangi penjemuran. Memandikan dan jemur boleh dilakukan saat bulu baru sudah tumbuh dan dirasa cukup kuat.
Kesalahan dalam merawat burung mabung dikhawatirkan dapat menyebabkan bulu tidak tumbuh sempurna. Ketika itu terjadi, proses pemasteran juga sia-sia karena burung enggan berkicau.
Perawatan ekstra cucak ijo mabung adalah dengan memberikan tambahan pakan berupa jangkrik dan ulat. Bisa ulat jerman, ulat hongkong, atau ulat kandang. Fungsinya, mempercepat rontoknya bulu lawas.
Sebelum dimaster, kata Rinto, sebaiknya cucak ijo dijinakkan. Khususnya bagi burung yang masih “bahan” atau muda. Caranya dengan membiasakan berinteraksi dengan manusia.
"Cucak ijo rata-rata hasil tangkapan alam karena masih jarang diternak. Jadi butuh adaptasi,” ucap Rinto.
Jenis kicauan untuk pemasteran? Rinto menyebut kicau burung cililin, cucak jenggot, burung gereja, ciblek, kenari, dan banyak lainnya. “Kalau kicauanya banyak variasi, harganya terserah si penjual. Bisa sampai puluhan juta rupiah,” pungkasnya. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram