Perform perdana disajikan Lintang Ayodya Wahyu Aji asal Kota Jogjakarta. Dia Membawakan tarian berjudul Beautiful, dengan mengusung delapan penari. Sebagai representasi bentuk kekaguman atas penari bedhaya di Kota Gudeg.
“Menurut saya penari bedhaya di Jogja itu tidak sekadar cantik. Lebih dari itu, ada ragam yang namanya nglayang di bagian akhir. Itu salah satu yang membuat saya cinta terhadap penari-penari bedhaya ketika menari,” ungkapnya.
Sajian kedua giliran Melati Sri Ari Lestari dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Berjudul Kalaku yang dibawakan lima penari. Pertunjukkan ini terinspirasi dari sebuah jam. Benda yang selalu dekat dengan kehidupan manusia.
“Soal proses kreatif dalam penyusunan karya ini, saya melihat dan tertarik dengan jam. Sangat berkaitan dengan kehidupan manusia. Ada jarum pendek dan panjang. Ada jam dinding, jam tangan, dan jam di handphone (HP),” ujar Melati.
Melati mengaku detak jam menunjukkan waktu. Sesuatu yang sangat berharga bagi manusia. Sekaligus menjadi misteri terbesar dalam hidup. Karena berisi pengalaman-pengalaman berbeda bagi setiap individu.
Kalaku, lanjut Melati, juga diartikan sebagai suatu harapan atas misteri waktu yang membawa manusia ke masa depan. Serta memberi tempat pada peristiwa yang akan terjadi.
“Kalaku ini artinya waktuku. Merupakan suatu harapan, keinginan, serta ambisi seorang anak untuk melampaui kesuksesan orang tuanya,” imbuhnya.
Penyaji ketiga, giliran Ela Mutiara J.W. yang juga berasal dari Jogja. Dia membawakan pementasan berjudul Nete(w)p. Pertunjukan ini hanya diisi dua penari. Masing-masing satu laki-laki dan perempuan.
Berlanjut ke perform keempat dari Pulau Dewata Bali. Dengan koreografer Pande Putu Kevin Dian Muliarta, yang mengangkat tajuk Yus Sasolahan.
Nah, pertunjukan Tidak Sekadar Tari #78 ditutup penampilan koreografer tuan rumah Pamungkas C. Bagas dari Tiga Slash Funda Solo. Dia mengangkat judul Runyam. Menerjemahkan tentang isu wanita.
Selama proses kreatifnya, Pamungkas butuh waktu setahun. Tak sendirian, dia bekerja secara kolektif dengan Danang, Kukuh, sekaligus para penampil lainnya. (nis/fer/dam) Editor : Damianus Bram