MANNISA ELFIRA, Karanganyar, Radar Solo
"Apa ya yang unik?". Pertanyaan itu memenuhi kepala Eny Ngasti. Saat buah tangannya berbahan mote tidak lolos kurasi di Solo Art Market (SAM) 2019 silam. Tak sengaja, suatu hari saat menuju pulang ke rumahnya di Perum Griya Muliatama Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, mata dia tertuju pada pelepah pisang di sepanjang jalan pedesaan itu.
"Kok unik ya? sepertinya bisa? Di SAM kriterianya kan harus unik," pikir perempuan berusia 49 tahun tersebut.
Diambillah pelepah pisang paling luar. Warnanya agak kuning dan kecoklatan. Lalu dibawa pulang. Tak lupa dibersihkan dan direndam dengan cairan pemutih. Fungsinya agar lebih awet. Setelah itu baru dikeringkan sekitar lima jam.
"Nah, kebetulan cover buku agenda saya rusak. Saya coba pelepah pisang itu untuk dibuat menjadi cover. Eh, ternyata bagus," kata Eny ketika ditemui Jawa Pos Radar Solo, Kamis (2/3/2023)
Kreativitas Eny dengan pelepah pisang tak berhenti di situ. Bekas gulungan benang atau kletek disulap menjadi vas hingga celengan."Saya juga membuat tisu box, figura, hingga gantungan kunci," imbuhnya.
Kreasi-kreasi dari pelepah pisang itu semakin menarik karena ditambah hiasan. Agar tak sepi, dia membubuhkan biji jali-jali, tali, dan lainnya. "Setelah itu diolesi pernis. Agar lebih awet dan tidak jamuran," katanya.
Karena senang dengan alam, setelah pelepah pisang, Eny terinsipirasi dari keindahan alam laut. Berupa pasir laut yang dicampur lem. Menjadi figura kecil nan cantik.
"Saya coba pasang figura itu dengan foto saya. Teman saya lihat, bilang bagus. Terus saya bikin lagi," katanya.
Sejak saat itu, hasil karya Eny kian melimpah. Dia juga terus mengembangkan karyanya agar lebih menarik. Seperti menambahkan warna dan hiasan yang lebih cantik lainnya.
"Saya akhirnya bisa ikut SAM. Kala itu SAM belum seramai sekarang," katanya.
Di SAM, keahlian Eny semakin diuji. Kadang pengujung yang datang request hal-hal di luar kepala. Seperti meminta cover buku dari pelepah pisang diganti dengan klobot jagung.
Cukup mengagetkan tapi mengapa tidak? Inilah tantangan Eny sebagai seorang perajin. "Prosesnya hampir sama dengan pelepah pisang. Cuma kalau klobot warna harus dimasak dulu. Jadi pengeringannya dua kali," jelas perempuan kelahiran 4 Maret itu.
Setelah kering, dia mencoba membuat bunga dari klobot jagung. Setelah itu terciptalah tisu boks, figura, hingga buku. Kemudian yang paling rumit itu centongan dan telenan.
"Sebab pembuatannya itu sangat detail. Ada hiasan tambahan seperti bunga edelweiss, biji rotan, jali-jali, tali, dan lainnya," imbuhnya.
Memang pembuatannya perlu ekstra kesabaran dan ketelatenan. Kadang kalau terlalu getas (kering) bisa pecah atau sobek. Jika tidak terbiasa juga agak susah. Contohnya pengunjung saat mengikuti workshop dia di SAM, kadang dua jam tidak cukup. Dengan senang hati dia membimbing dan mengajari para pengunjung. "Saya buka kelas workshop di sana. Ke depan saya juga akan terus berinovasi untuk membuat karya-karya baru" bebernya. (*/bun) Editor : Damianus Bram