Jumat (3/3/2023) malam lalu, Jawa Pos Radar Solo berkesempatan menyaksikan DFL latihan di sebuah studio musik di Jalan Bhayangkara No. 43 Surakarta. Kesempatan menyaksikan band metal ini terasa cukup spesial. Sebab, dalam latihan kemarin personelnya lengkap. Selama ini, mereka tinggal di berbagai kota sehingga latihan musik tak selalu dilakukan dengan tatap muka.
“Latihan bareng seperti ini (pesonel lengkap) cukup jarang. Paling kalau mendekati manggung saja. Ya, karena kami memang sudah tidak tinggal di satu kota lagi. Untuk memangkas jarak biasanya latihannya jarak jauh memanfaatkan internet. Bahkan bikin lagu atau materi baru pun sekarang seringnya jarak jauh,” ujar sang vokalis Stephanus Adjie.
Meski hanya latihan, namun peralatan yang dibawa tidak main-main. Sama seperti perlengkapan ketika akan konser di berbagai panggung. Agar tidak ada ketimpangan saat latihan dan saat konser.
“Kalau latihan ya seperti ini. Bisa dibilang amplifiernya hanya dipakai untuk speaker saja karena setingannya sudah langsung dari ampli simulator. Rekaman pun sekarang juga seperti ini,” kata dia.
Sampai saat ini mereka lebih memilih melakukan rekaman di studio rekaman profesional untuk menyelesaikan rilis album maupun single. Alasannya karena menyesuaikan dengan kebutuhan band.
“Proses rekaman saat ini hampir semuanya sudah digital. Beda dengan rekaman zaman dulu yang masih analog,” ujar dia.
Bicara soal studio recording atau home recording, Adjie mengatakan, semua tergantung kebutuhan band yang akan melakukan rekaman. Ketika home recording didukung dengan peralatan dan perlengkapan yang bagus tentu akan menghasilkan produk rekaman yang bagus juga. Sebaliknya jika studio rekaman tidak didukung dengan peralatan dan perlengkapan yang mumpuni tentu hasilnya tidak akan bagus.
“Rekaman yang bagus pasti akan lebih tinggi harganya. Kalau orang Jawa bilang ono rego ono rupo. Entah apakah studio recording atau home recording kalau bagus pasti harganya juga akan lebih mahal,” kata dia.
Di sisi lain, baik studio recording atau home recording dibagi dalam sejumlah kelas berbeda berdasar kualitasnya. Bisa dari sumber daya manusianya maupun peralatannya.
“Semakin bagus dan lengkap peralatannya. Apalagi dituntang SDM berkualitas maka home recording pun hasilnya juga bisa bagus,” ujarnya.
Meski demikian, hingga saat ini DFL memilih mempercayakan karyanya untuk direkan di studio recording yang sudah mereka percaya. Mulai dari album pertama hingga album keempat semuanya di rekam di studio recording yang berbeda-beda. Tentu, biaya proses rekaman, mixing, dan mastering juga beragam. Mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah.
“Kalau saya pribadi tetap masih ke studio yang mumpuni. Intinya harus sumbernya bagus dulu. Baik dari player dan siapa yang merekam, siapa yang mixing dan mastering. Dan tidak lupa dari sisi lainnya alat harus menunjang. Lebih-lebih untuk vokal dan drum saya pikir tetap butuh akustik ruangan yang bagus. Tapi semuanya dikembalikan ke kebutuhan masing-masing,” tutur Adjie. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram