MANNISA ELFIRA, Solo, Radar Solo
Puluhan kamera lawas berjejer rapi di tembok toko Aneka. Toko milik Kasiman di gang Citarum No. 17B, Joyosuran, Surakarta. “Itu kamera dari dulu. Dulu sempat jual beli kamera, selain servis,” beber pria kelahiran 1952 itu.
Sudah sekitar lima tahun terakhir, jual-beli kamera berhenti. Padahal saat usahanya baru dibuka, tokonya ramai didatangi orang dari berbagai kota. Itu terjadi sekira 1979-1980. Kala itu toko Kasiman masih berada di daerah Kemlayan.
“Sekarang sulit untuk jual-beli. Trennya Android,” beber Kasiman ketika ditemui Jawa Pos Radar Solo di rumah sekaligus tokonya.
Kini, Kasiman hanya menerima reparasi kamera. Mulai analog hingga digital, dia mampu menanganinya. Meski harus menggunakan kacamata dan kaca pembesar. Mengingat, daya matanya tak seperti saat muda.
“Dulu dua jam bisa selesai. Saat ini penglihatan sudah berkurang, jadi kadang bisa dua sampai tiga hari,” katanya.
Untuk umur 70 tahunan, matanya termasuk masih jeli. Bagaimana tidak, memperbaiki kamera sudah jadi makanan sehari-harinya. Yang mengejutkan, ternyata Kasiman belajar memperbaiki kamera secara mandiri alias otodidak.
“Dari awal itu saya elektronik. Zaman dulu itu TV, radio, dan lainnya. Tapi kok radio ongkosnya kecil. Cuma 2.000 rupiah, padahal sulit banget nangkap sinyalnya. Tidak seperti TV,” jelasnya.
Di suatu hari ketika kamera miliknya rusak, Kasiman baru tahu kalau ongkos perbaikan kamera lumayan. Sekira Rp 7.500, berbanding jauh dengan elektronik lainnya. Mulai dari situ, dia belajar mengutak-utik kamera sendiri. Kemudian membuka toko.
“Kebetulan saya tahu elektronik. Sebetulnya sama saja tekniknya, tapi tetap ada bedanya. Saya dulu pakai alat tradisional. Seperti tang kecil, solder, dan lainnya,” jelasnya.
Tahun demi tahun berlalu, zaman semakin berkembang. Datanglah kamera digital. Kala itu, Kasiman sempat kebingungan, harus kerja apa jika digital masuk. Hebatnya, dia berusaha survive. Mencoba belajar lagi tentang kamera digital.
“Otodidak juga untuk digital. Sedikit demi sedikit membetulkan kamera itu. Syukurnya sudah tahu dasarnya,” jelasnya.
Tapi analog dan digital itu berbeda. Analog lebih ke mesin, sedangkan digital itu elektronik mikro. Artinya, lebih kecil lagi bagiannya. Kemajuan membuat rangkaian makin rumit. Inilah tantangan baginya. Harus serba hati-hati, kalau tidak bisa korslet. Sehingga bagian lain ikut rusak.
“Fatalnya di situ. Kebetulan saya tahu. Pernah kesetrum. Setrumnya tinggi lagi. Kalau yang tidak biasa ya bisa terkejut hingga trauma,” bebernya.
Tapi itulah pekerjaan yang juga kebiasaan sehari-harinya. Hanya libur di hari Minggu, Kasiman aktif duduk dan fokus memperbaiki kamera dari pukul 08.00 hingga 15.00. (*/bun) Editor : Damianus Bram