IWAN KAWUL, Sukoharjo, Radar Solo
Ki Ageng Banyubiru dipercaya menetap di Dusun Sarean, Desa Jatingarang, Kecamatan Weru untuk menghindari konflik politik tersebut. Makamnya tepat di pinggir jalan utama Weru-Manyaran, Wonogiri. Kompleks makam ini juga dipasangi objek diduga cagar budaya (ODCB) oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo.
Pemerhati Sejarah dan Budaya Sukoharjo Yudi Janoko menuturkan, Ki Ageng Banyu Biru adalah tokoh penyebaran Islam di Sukoharjo Selatan. Ayahnya bernama Pangeran Handayaningrat (Jaka Sengara/Kiai Muhammad Kabungsuan/Ki Ageng Pengging Sepuh) putra Syaikh Jumadil Kubro. Ibunya Raden Ayu Retno Pambayun putri Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir).
”Nah, saya percaya bahwa Syaikh Jumadil Kubro ini adalah seorang dai, syaikh, habib. Maka, anaknya, dan cucunya (Ki Ageng Banyu Biru, Red) pasti mengikuti jejak leluhurnya,” kata Yudi kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (27/3/2023)
Ki Ageng Banyu Biru dikisahkan sebagai seorang yang lembut hati. Meskipun pewaris sah dari Kerajaan Pengging (ada yang menyebut Kadipaten Pengging), tetapi tidak berambisi meneruskan jabatan ayahnya menjadi raja berikutnya.
Ki Ageng Banyu Biru memilih kehidupannya sebagai seorang santri. Sedari kecil sudah berminat menekuni ilmu agama yang diajarkan oleh sepupunya, yaitu Sunan Ampel. Kemudian dilanjutkan berguru ke Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, hingga Syekh Siti Jenar.
”Situasi politik (kerajaan Demak, Red) saat itu memanas, terjadi perebutan kekuasaan di Demak. Ki Ageng Banyu Biru lebih memilih menyebarkan Islam ke pelosok dan meninggalkan semua urusan duniawi,” kata Yudi.
Ki Ageng Banyu Biru dibantu istri dan anak-anaknya mengajarkan Islam hingga ke Sukoharjo selatan. Dalam berdakwah tanpa menggunakan paksaan sesuai yang diajarkan guru-gurunya. Salah satunya media yang digunakan adalah wayang kulit seperti yang diajarkan Sunan Kalijaga.
”Petilsan Watu Kelir di tengah Pasar Watukelir, Weru dipercaya pada zaman Wali Songo dijadikan tempat berdakwah melalui wayang kulit. Tempatnya di bawah pohon asem yang rindang yang kini sudah berumur ratusan tahun. Di bawah pohon asem inilah terdapat watu (batu) yang mirip papan, tegak bersandar pada pohon asem, sehingga disebut kelir (layar pada panggung),” ungkap Yudi. (*/adi) Editor : Damianus Bram