AHMAD KHAIRUDIN, Radar Solo, Sragen
Ki Ageng Butuh dimakamkan di Makam Butuh, Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Sragen. Lokasinya sekitar aliran Sungai Bengawan Solo. Makam ini satu kompleks dengan Masjid Butuh yang juga peninggalannya era 1500-an.
Hingga kini, masih banyak peziarah yang datang mendoakan jasanya dalam perkembangan agama Islam. Di lokasi tersebut terdapat 27 makam, termasuk makam Joko Tingkir, pemimpin Kerajaan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya yang tak lain anaknya sendiri.
Juru kunci Makam Butuh Muhammad Aziz menjelaskan, masa tua Ki Ageng Butuh menjadi penduduk biasa di Dukuh Butuh. Bahkan nama dukuh ini juga diambil dari nama julukan dia.
”Sosok Ki Ageng Butuh awalnya seorang Adipati kedua Kadipaten Pengging (Boyolali). Dia menggantikan ayahnya Ki Ageng Handayaningrat Pengging sebagai Adipati Pengging. Saat masih menjadi Adipati Pengging, Ki Ageng Butuh mendapat perintah untuk menghadap Keraton Demak terkait situasi politik. Saat itu Pengging berada di bawah Kasultanan Demak,” kata Aziz kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (28/3/2023).
Namun, Ki Ageng Butuh menolak untuk menghadap. Hingga akhirnya Sultan Demak meminta Sunan Kudus untuk membujuknya hadir dari Kadipaten Pengging. Setelah berhasil dibujuk, Ki Ageng Butuh tetap pada pendiriannya dan menjauh dari hiruk pikuk politik.
Kemudian Sunan Kudus memberi saran supaya Ki Ageng Butuh keluar dari Kadipaten Pengging dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan serta mengajarkan ilmu agama kepada rakyat. Hingga akhirnya Ki Ageng Butuh bersama istri melakukan perjalanan ke arah timur dan sampailah di sebuah hutan.
”Ki Ageng Butuh melakukan perjalanan menyusuri pinggir Sungai Bengawan Solo. Dukuh Butuh dulunya hutan, di seberang Sungai Bengawan Solo juga sudah ada penduduk setempat, tapi masih jarang. Lantas tempat yang beliau singgahi, diberi nama Butuh,” ujarnya.
Dia menambahkan, keputusan untuk menetap di Dukuh Butuh adalah untuk mengasingkan diri, dan mencegah adanya konflik. Kemudian pada saat bermukim di Dukuh Butuh, Ki Ageng Butuh mendirikan sebuah masjid dan pesanggrahan tempat berkumpulnya warga.
Bengawan Solo juga dijadikan sebagai sarana mendatangkan kayu-kayu besar untuk pembangunan masjid. Kemudian, Ki Ageng Butuh memilih berbaur dengan penduduk setempat.
”Karena memang sosok Ki Ageng Butuh tidak ingin berperang. Pilihannya pindah dari Pengging semata ingin mencari ketenangan, baik ketenangan batinnya, maupun negaranya,” terangnya.
Oleh penduduk setempat, Ki Ageng Butuh dianggap sebagai tokoh masyarakat yang dihormati. Ki Ageng Butuh dijadikan sosok panutan penduduk setempat dalam hal ajaran agama Islam. (*/adi) Editor : Damianus Bram