A CHRISTIAN, Radar Solo, Solo
Wajah Margono sempat semringah ketika bulan lalu dihubungi Dinas Koperasi dan UMKM Kota Surakarta untuk mengajukan sampel merchandise Piala Dunia U-20. Dia pun langsung bergegas mempersiapkan diri untuk membuat yang terbaik. Sebab, ini mempertaruhkan nama baik Solo dan Indonesia.
"Kami baru disuruh untuk membuat desainnya saja. Kebetulan saya kalau membuat desain lewat komputer kan tidak bisa, bisanya manual. Akhirnya saya tetap membuat produk jadinya sekalian. Harapannya panitia bisa mendapat gambaran konkret," ujarnya.
Margono membuat hiasan meja berbahan kayu dan kulit. Di mana ada dua maskot yang diusung. Yaitu, badak bercula satu sebagai maskot Piala Dunia U-20 dan Rajamala sebagai maskot Kota Bengawan.
“Jadi bentuknya seperti vandel kayu dan wayang. Ada delapan jenis bentuk," jelas Margono.
Delapan contoh tersebut telah dia kirimkan ke dinas terkait. Dia lantas diminta menunggu informasi lebih lanjut karena harus melalui proses seleksi dari panitia. Namun, bukannya kabar baik yang dia terima, malah kabar buruk datang. Piala Dunia U-20 batal digelar di Indonesia. Otomatis dia tak jadi membuat kerajinan ini secara masal.
Lalu berapa modal yang dia keluarkan untuk membuat sampel itu, Margono menuturkan, belum menghitung secara rinci. Namun nominalnya tak banyak. Bahan baku kulit dan kayu selalu ada stoknya karena sehari-hari Margono merupakan pengrajin wayang kulit.
"Kalau dibilang kecewa, pasti kecewa. Tapi ini sudah jadi keputusan dunia. Mau enggak mau juga harus menerimanya. Tapi harapan besar kami para UKM semoga di acara-acara tingkat internasional yang diselenggarakan di Indonesia khususnya di Kota Solo, mereka bisa terus dilibatkan," ujar dia.
Margono sebelumnya juga pernah dipercaya sebagai salah satu UMKM yang ditunjuk untuk membuat suvenir Asian Para Games (APG) ke 11 di Kota Bengawan pertengahan tahun lalu. Di mana kala itu dia membuat beberapa kerajinan bertema Rajamala. Untuk menyelesaikan pesanan dia dapat membuka lapangan pekerjaan baru.
"Waktu itu saya buat sampai 2.600 buah, kemudian di tengah acara ada tambahan 600. Saat itu diharga Rp 25 ribu sampai Rp 200 ribu per suvenir. Waktu itu saya sampai rekruitmen 100 orang karena banyaknya pesanan dan hanya diberi waktu 10 hari untuk menyelesaikan," ungkap Margono.
Lalu apakah sudah menentukan harga untuk suvenir Piala Dunia U20? Margono mengatakan belum. Sebab, bahan baku kerajinan harganya bisa berubah-ubah tergantung ketersediaan barang.
"Makanya kemarin saya nunggu persetujuan dulu, baru membuat rincian harga. Eh ternyata malah batal. Ya sudah, belum jadi rezeki saya. Mudah-mudahan kedepan ada gantinya," ujar Margono. (*/bun) Editor : Damianus Bram