RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo
Buyut Kiai Zuhdi, sekaligus Wakil Ketua Yayasan Zumrotut Tholibin Anshar Budiyono menceritakan, Kiai Zuhdi merupakan santri asal Toroh, Grobogan. Dari kecil hingga dewasa, dia menghabiskan waktunya untuk mengaji agama dan Alquran hingga Mekkah. Selain berhaji, Kiai Zuhdi juga belajar tajwid dan ilmu-ilmu lainnya.
”Selesai belajar ilmu agama di Ponpes Wirosari, Grobogan sekira 1900-an lebih, guru Mbah Zuhdi mintanya menyebarkan Islam ke arah selatan,” terangnya pada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (31/3/2023).
Kiai Zuhdi lalu berangkat ke selatan hingga Desa Kacangan, Andong. Saat itu, mayoritas masyarakat masih abangan yang tak mengenal Islam dan tahu tata cara beribadah. Dia kemudian diterima sesepuh desa setempat dan disediakan pondok bambu yang memiliki langgar kayu kecil. Di sanalah awal mulai dia mengajarkan Islam. Karena cara mengajarnya yang ramah dan mudah diterima masyarakat, Kiai Zuhdi semakin diterima hingga mendapat hibah tanah 3.500 meter persegi.
”Tanah tersebut lantas dibuatkan Masjid Rodhotut Sholihin. Keseluruhan bangunan masih kayu, wong itu zaman sebelum merdeka, sekira 1906. Baru Mbah Kiai mendirikan bedeng -bedeng bambu (kamar bambu,red). Buat para santri mengaji,” katanya.
Mengaji di pondok Kiai Zuhdi juga tidak dipungut biaya. Para santri mengenalnya dengan Pesantren Kacangan di Mojo. Ilmu yang diajarkan di pondok tersebut adalah ilmu Shorof, Fiqih, Tafsir, ilmu Asror dan laduni serta lainnya. Beberapa santrinya yang terkenal, seperti Mbah Siroj yang dimakamkan di Pracimaloyo, Makam Haji; Mbah Mansur hingga Mbah Khasan Mukmin.
Ada dua catatan penting sejarah yang terjadi di ponpes Kiai Zuhdi. Jelang kemerdekaan, ponpes menjadi markas tentara-tentara Islam Indonesia yang menjalankan semangat resolusi jihad yang digaungkan K.H. Hasyim Asy'ari.
”Pada zaman Belanda di sini dianggap markas tentara Hizbullah, tentara Islam yang waktu itu, komandonya resolusi jihad, sama dengan NU waktu itu. Jadi zaman Belanda ini pernah dibom. Ketika sudah merdeka, di zaman PKI juga dibakar. Saat saya masih kecil, saya masih liat bekas-bekas pembakaran. Puing-puingnya yang terbakar terlihat. Bahkan, banyak santri-santri senior yang hilang saat masa PKI,” tandasnya. (*/adi/dam) Editor : Damianus Bram