ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo
Masjid Agung Puluhan dinilai memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi warga setempat. Karena dianggap peninggalan Sunan Kalijaga. Konon masjid itu ditemukan leluhur desa di tengah hutan belantara hingga akhirnya disebut sebagai masjid tiban.
Masjid tersebut memiliki ukuran 17 meter x 19 meter dengan halaman cukup luas. Pada bagian depan terdapat tower yang berfungsi untuk meletakan pengeras suara. Sedangkan bagian terasnya terdapat jam kayu besar serta beduk.
Saat memasuki masjid langsung disambut tiang penyangga yang berjumlah delapan. Lantai bagian dalam masjid tertutup karpet. Kontruksi dari bangunan masjid tersebut berupa dinding. Dari luar memang masjid tersebut tampak bangunan masjid modern lainnya di Kota Klaten.
Masjid Agung Puluhan menyimpan sejumlah bendo kuno yang salah satunya mimbar berbahan kayu dihiasi ukuran. Mimbar berwarna hitam itu ditutup kelambu dan terdapat tongkat di dalamnya. Hingga kini mimbar tersebut masih digunakan untuk ceramah.
Sementara itu, di sisi selatan mimbar itu terdapat bangunan berbahan kayu berukir yang diselubungi kain berwarna kuning. Pada balik kain itu terdampat amben atau balai-balai beralas karpet. Tepat di atasnya diletakan Alquran yang ditutupi kaca.
Amben itu diyakini merupakan tempat Sunan Kalijaga mengaji serta melakukan tirakat atau penguatan spiritual. Sementara itu pada tempat wudhu terdapat satu padasan berupa gentong yang didekatnya terdapat satu batu andesit.
Masjid tersebut juga memiliki ruangan yang dikenal sebagai museum. Di dalamnya terdapat benda-benda kuno yang masih tersisa dari bangunan Masjid Agung Puluhan. Salah satunya bagian kemuncak dari masjid tersebut. Ada pula kayu tiang penyangga yang masih utuh lengkap dengan ukiran serta beduk dan kentongan.
”Menurut orang tua dulu di Puluhan itu hutan belantara, belum ada orang. Disebut masjid tiban karena tahu-tahu ada masjid di tengah hutan saat para leluhur kami memasuki wilayah Puluhan ini,” ucap Ketua Takmir Masjid Agung Puluhan, Hardiman, 71, kepada Jawa Pos Radar Solo beberapa waktu lalu.
Ada kisah dari para leluhur di Desa Puluhan terkait Sunan Kalijaga yang mendirikan masjid di tengah hutan belantara itu. Awalnya hendak membangun masjid di wilayah lainnya yang ada di Kecamatan Trucuk. Mencoba membangun dan berpindah tempat, tetapi tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya bisa membangun masjid di tengah hutan belantara di Puluhan. (*/adi) Editor : Damianus Bram