Sabetan dan sanggit dalang kembar Seruni Widaningrum dan Seruni Widawati, mampu membius mata penonton di Kampung Katresnan, kompleks TBJT. Kali ini mereka mengusung lakon Dewi Sri Tumurun. Kesempatan tampil di Kampung Katresnan ini tak disia-siakan oleh Wida-Wati (sapaan dalang kembar tersebut). Meski hanya tampil tiga jam, mereka mampu menghidupkan pergelaran wayang kulit malam itu.
“Ada tokoh kembar dampit, cowok, dan cewek. Nah kami fokus ke yang cewek. Memainkan tokoh Dewi Sri Rejeki,” kata Wida kepada Jawa Pos Radar Solo .
Secara lengkap, lanjut Wida, nama lakon yang dibawakan adalah Dewi Sri Tumurun. Merepresentasikan Dewi Sri yang turun dari kayangan, saat dunia dan alam seisinya dalam kondisi rusak.
“Dewi Sri simbol dewi pangan atau dewi kesuburan. Dia turun ke dunia untuk membenahi kerusakan itu. Tidak cuma secara magic, tapi juga membenahi pola pikir masyarakat,” imbuh Wida.
Wida menceritakan secara singkat cerita dari lakon yang dibawakan. Menggambarkan tingkah laku masyarakat saat dunia menuju kehancuran. Setelah Dewi Sri turun dari kayangan, membuat masyarakat tersadar. Masyarakat menjadi lebih peka dan mau melakukan penghijauan, mengolah limbah, termasuk tidak membuang sampah sembarangan. “Intinya adalah menjaga kelestarian alam,” bebernya.
Ketika membawakan lakon ini, durasiyang dimiliki Wida dan Wati sangat terbatas. Hanya dua hingga tiga jam. Perform mereka dimulai pukul 20.00. Inilah tantangan yang hadur dihadapi dalang kembar tersebut.
“(Waktu yang singkat) itu malah lebih susah. Kami harus menyesuaikan antara (adegan) depan dan belakang. Itu harus pas. Terus tidak ada yang molor. Jadi harus tepat waktu. Termasuk peralihan gending-nya,” ungkap Wida.
Wati saudara kembar Wida, juga mengakui waktu yang terbatas dianggap memberi tantangan tersendiri. “Biasanya kalau wayang keluar, ada waktu untuk istirahat. Tapi kami harus perform dengan durasi yang padat. Tidak ada istirahatnya sama sekali,” paparnya.
Secara keseluruhan, Wati mengaku tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Karena mendapat kesempatan tampil di Kampung Katresnan.
“Persiapan kami selama dua minggu. Latihan berdua setiap hari. Sedangkan kalau latihan bersama teman-teman (pengrawit) baru dua kali,” urai Wati.
Teman-teman yang dimaksud Wati adalah pengrawit yang tergabung dalam grup Laras Hapsari. Menariknya, seluruh pengrawit adalah wanita. Termasuk pada sindennya.
“Laras Hapsari itu nama baru. Sebenarnya sudah lama ada, tapi gonti-ganti dalangnya. Karena tampil bersama kami, pakai nama Laras Hapsari,” ungkap Wati.
Ditanya eksistensi dalang wanita, Wati mengaku butuh persiapan ekstra. “Tetap belajar, jangan patah semangat. Jangan minder sebagai wanita. Karena usaha tidak mungkin mengkhianati hasil,” pesan Wati. (nis/fer/dam) Editor : Damianus Bram