MANNISA ELFIRA, Solo, Radar Solo
Pangeran Sambernyawa, julukan R.M. Said, menjadi pahlawan nasional Indonesia. Dia juga memiliki peran dalam penyebaran agama Islam. Caranya dengan pendekatan sosial dan budaya.
”Kalau cara beliau, dakwah melalui pendekatan sosial budaya. Cara yang paling efektif. Jadi tidak menggunakan dalil seperti sekarang,” kata Sekretaris Takmir Masjid Al Wustho Purwanto kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (10/4/2023).
Ajaran-ajaran agama Islam disisipkan lewat budaya yang sudah berlaku di masyarakat. Misalnya sadranan, kirab, dan sebagainya. Hal itu merupakan tradisi masyarakat dulu. Selain menyebarkan agama Islam, Pangeran Sambernyawa memprakarsai masjid yang kini dikenal masyarakat dengan Masjid Al Wustho Mangkunegaran. Masjid ini merupakan salah satu tempat ibadah bersejarah di Kota Bengawan.
Dulunya masjid ini bernama Masjid Mangkunegaran. Terletak di kawasan Kampung Kauman, Pasar Legi di Jalan Kartini No. 3, Ketelan, Kecamatan Banjarsari yang tak jauh dari masjid sekarang.
”Saat KGPAA Mangkunegara I, II, hingga III lokasinya masih di Kampung Kauman. Tapi sejak bertakhtanya KGPAA Mangkunegara IV, masjid dipindah pada 1878. Setelah itu lokasinya sampai saat ini di sini,” kata Purwanto.
Pada era Mangkunegara V, VI bangunan masjid tetap asli. Belum ada tambahan. Hingga saat Mangkunegara VII naik menjadi adipati, masjid direnovasi dengan besar-besaran. Kala itu, dia bekerja sama dengan seorang arsitek dari Negeri Belanda.
”Menambah gapura di sekeliling, depan, ataupun di serambi. Kemudian membangun mihrab di depan, maligin, dan menara,” katanya.
Untuk menara ini sendiri kelar sekira 1926. Fungsinya untuk tempat muazin mengumandangkan adzan. ”Dulu sebelum ada pengeras suara, begitu bedug dan kentongan dipukul. Muazin naik dan mengumandangkan azan,” jelas Purwanto.
Beberapa tahun setelah itu, nama masjid berganti menjadi Masjid Al Wustho. Pemberian nama oleh Bopo Panghulu Puro Mangkunegaran Raden Tumenggung KH. Imam Rosidi pada 1949. Makna dari nama itu adalah tengah.
”Karena letaknya di tengah kota. Selain itu disebut masjid bernegara karena diserahkan secara penuh kepada Negara sejak 1949. Baru pada 2021 kemarin diserahkan ke Pemkot Surakarta,” tambahnya. (*/adi) Editor : Damianus Bram