Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Jumadi, Pedagang Mi Ayam yang Getol Perjuangkan Air Bersih di Kampungnya

Damianus Bram • Rabu, 12 April 2023 | 15:00 WIB
TAK KENAL LELAH: Jumadi di warung mi ayamnya di Semanggi, Pasar Klitikan Semanggi. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)
TAK KENAL LELAH: Jumadi di warung mi ayamnya di Semanggi, Pasar Klitikan Semanggi. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM - Demi mengentaskan warga dari krisis air bersih, Jumadi rela  mengesampingkan pekerjaan utamanya sebagai pedagang mi ayam. Tak ayal aksinya ini sempat ditentang keluarga. Namun, kini perjuangan pria 47 tahun ini berbuah manis.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

Suara gemericik terdengar dari keran air warga RT 09 RW 02 Mojo, Pasar Kliwon. Awal tahun ini warga setempat lega karena bisa langsung konsumsi air bersih dari rumah masing-masing. Sebelumnya selama 20 tahun, untuk konsumsi sehari-hari mereka tergantung dengan membeli air galon.

Hal ini membuat Jumadi bisa tersenyum lebar kala mengenang perjuangan dia dan rekan-rekannya di Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mojo Waras yang telah berjuang untuk pengadaan air bersih sejak 2018 lalu.

"Saat ini kami sangat bersyukur karena jaringan air bersih sudah bisa diakses dari rumah masing-masing. Kalau ingat perjuangan kami banyak tantangannya, tapi semua terbayar. Sekarang setiap hari bisa menikmati air bersih dari rumah," kata Jumadi saat ditemui di warung mi ayam miliknya di Pasar Klitikan Solo, Selasa (4/4/2023).

Dorongan untuk lebih mudah mengakses air bersih itu muncul dari keresahan warga selama puluhan tahun. Kala itu, kampungnya dihuni oleh masyarakat menengah ke bawah. Mereka terpaksa bermukim di area rawa-rawa di tepian Sungai Bengawan Solo.

"Saya bermukim di Mojo sebelum 2000. Setelah krisis moneter 1998 saya pindah dari Jakarta untuk tinggal di Solo bersama istri dan anak saya. Dulu di lingkungan tempat tinggal saya ini terbilang kumuh karena berada di daerah rawa dan banyak pembuangan sampahnya. Kami kesulitan untuk konsumsi air bersih karena air sumur berwarna kuning dan beraroma tidak sedap saat musim kemarau," terang dia.

Himpitan ekonomi memaksa warga harus bisa berdamai dengan situasi sekitar waktu itu. Selama 20 tahun warga terpaksa menggunakan air tanah yang tidak layak itu untuk kebutuhan sehari-hari sampai akhirnya terpaksa harus membeli air galon Rp 2.000 per galonnya. Keresahan itu membuat dia dan warga lain mulai menyuarakan pentingnya konsumsi air bersih untuk warga di lingkungannya. Pada 2017, usulan warga akhirnya didengar pemerintah.

Pemkot Surakarta memberi bantuan pembuatan jaringan air bersih di lingkungannya. Setelah memenuhi berbagai persyaratan dengan pembentukan kepengurusan di KSM Mojo Waras, pada 2018 itu pembuatan jaringan air bersih bisa dilakukan.

"Waktu itu ada anggaran dari pemerintah, kami bisa bikin jaringannya sampai depan rumah warga. Kemudian ada bantuan lain dari berbagai pihak sampai akhirnya sekarang sambungan itu bisa diteruskan langsung ke rumah warga. Sekarang pengeluaran untuk air bersih jadi lebih murah daripada beli air galon," beber Jumadi.

Pria kelahiran Polokarto, Kabupaten Sukoharjo awalnya tak pernah membayangkan untuk menjadi seorang pegiat di lingkungannya. Karena mendapat  kepercayaan dari warga dia pun bertekad mengemban amanah itu.

"Saya jalani dengan senang hati meski banyak juga tantangannya. Untungnya rasa lelah ini terbayar lunas dengan akses air bersih untuk semua warga itu," terang bapak tiga anak itu.

Salah satu pengalaman unik yang pernah dia alami selama memperjuangkan jaringan air bersih di lingkungannya itu adalah terpaksa harus menanggung marah dari istri tercinta. Alasannya karena Jumadi rela menutup warung mi ayamnya itu hingga sebulan demi memperjuangkan amanat warga ini. Hingga membuat ekonomi rumah tangganya tak menentu.

Ketua KSM Mojo Waras itu harus bisa memberikan alasan yang masuk akal agar keputusan untuk menutup warung untuk sekian lama itu bisa diterima istri dan anak tercinta. Sebab, apa yang dia perjuangan demi kepentingan masyarakat luas.

"Pemasukan rumah tangga memang sempat terganggu. Tapi saya punya keyakinan kita harus peduli dulu dengan orang lain agar orang lain juga lebih peduli dengan kita," kenang Jumadi. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#KSM Mojo Waras #pegiat lingkungan #pedagang mi ayam #Air Bersih #Jumadi