RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo
Ki Ageng Singaprono I kini dimakamkan di Gunung Tugel, Desa Nglembu, Kecamatan Sambi. Dulunya, di masa Mataram, Gunung Tugel masuk wilayah Desa Walen, Simo. Namun, pada masa penjajahan Belanja, secara teritorial berubah dan masuk wilayah Nglembu, Sambi.
Keberadaan Ki Ageng Singaprono I memang tidak terpisahkan dari Walen. Nama desa tersebut diambil dari kata wali, tempat orang saleh atau suci bermukim. Kemudian dimudahkan pengucapannya oleh masyarakat dengan Walen.
”Memang Ki Ageng Singaprono I hidup pada era Mataram Kartasura, sekira 1700-an. Beliau itu kemungkinan, ada kaitannya dengan pesantren di Wonotoro, Sambi. Ada Ki Ageng Wono Kusumo, anak turun dari Ki Ageng Mursyid yang mendirikan pesantren di situ. Beliau itu berguru di daerah itu. Karena beliau sendiri asli Walen, termasuk ayah ibunya (Singaprono I) asli dan sudah menetap di Walen. Tapi beliau memang turunan Majapahit,” jelas pengamat sejarah Boyolali Surodjo kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (17/4/2023).
Singaprana I belajar di Wonotoro saat usianya masih remaja. Lalu ketika sudah dewasa, dia dipercaya oleh Keraton Kartasura untuk memimpin daerah dan menjadi demang atau kepala distrik. Sejak saat itu, dia mulai menyebarkan Islam di daerah Walen, yang kini dikenal sebagai Simo. Proses berdakwah Ki Ageng Singaprono I memang dikenal unik. Selain dengan pendekatan budaya, dia bisa merogoh hati masyarakat karena kebijaksanaannya.
”Dia menggunakan pendekatan agraris, pendekatan budaya. Dan masyarakatnya kan memang masyarakat agraris. Yakni dengan memperkenalkan teknologi pertanian. Beliau seorang ahli pertanian, termasuk (teknologi, Red) terasering, bagaimana bertani jagung. Makanya, beliau juga terkenal dengan sebutan Syekh Jagung. Karena beliau ahli juga dalam hal pertanian jagung,” ungkapnya.
Penyebaran agama Islam dilakukan melalui pendekatan sufisme dan kesederhanaan. Tingkah laku Ki Ageng Singaprono tidak pernah meninggikan kedudukan maupun kekayaannya. Pendekatan sufisme mengutamakan kejujuran, budi pekerti, akhlak yang baik dan kesederhanaan serta kebijaksanaan. Hal tersebut membuat masyarakat kecil mudah menerimanya.
Bahkan dikisahkan, sang demang pernah ditantang oleh teman seperguruannya, Ki Ageng Raga Runting terkait bagaimana metode pengajaran agama yang tepat. Namun, dikiaskan dalam narasi memetik kelapa. Metode yang digunakan Ki Ageng Raga Runting mengambil buah kelapa dengan dirontokan. Hal tersebut membuat seluruh buah kelapa jatuh. Baik yang sudah tua maupun yang masih kecil.
”Tapi Ki Ageng Singaprono I mengambil buah kelapa dengan dilengkungkan, baru diambil buahnya yang sudah bersih. Kalau yang belum dewasa dilepas kembali. Jadi cara mengambil hati masyarakat untuk memeluk agama Islam dengan cara yang bijaksana, menekankan budi pekerti. Sedangkan Ki Ageng Raga Runting metodenya berbeda, metodenya syariat, hukum agama. Halal-haram, model saklek, kalau hukumnya begitu ya harus begitu,” terangnya. (*/adi) Editor : Damianus Bram