BICARA soal mobil mainan mahal ini, di Sragen ada seniman Hot Wheels yang cukup mendunia. Dia adalah Dody Oktavian, warga Kampung Cantel Wetan, Kelurahan Sragen Kulon, Kecamatan Sragen. Dia tidak sekadar kolektor, namun juga membuat costum figure dari Hot Wheels.
Saat ditemui di bengkelnya, Dody tengah mempersiapkan pesanan dari luar negeri. Pria berusia 41 tahun ini menerima tim dari Radarsolo.com dengan ramah. Dalam obrolan ringan, dia menceritakan awalnya menyukai memodifikasi mainan.
”Dulu saya sukanya koleksi mainan. Tapi koleksi produk yang keluaran pabrik itu kurang memuaskan. Jadi saya ngoprek (memodifikasi, Red) mainan. Maka kalau ada mainan baik Gundam atau action figure itu saya oprek agar beda dari model pabrikan,” ujar Dody, beberapa waktu lalu.
Dody mulai ngoprek mainan saat masih kuliah di Salatiga pada 2005. Namun belum banyak pengguna media sosial (medsos) seperti sekarang. Karena itu, dia belum bisa ”pamer” dan hanya untuk senang-senang menyalurkan hobi. Kemudian pada 2008 sudah mulai booming medsos Facebook. Dia juga mulai beralih dari memodifikasi action figure dan Gundam ke Hot Wheels.
”Ternyata Hot Wheels itu lebih menyenangkan untuk di-custom. Selain ngoprek mobil, saya juga sering main action figure. Kalau dikombinasikan antara mobil dan figure, jadi rasa yang berbeda. Jadi ada kepuasan tersendiri,” ujar Dody.
Karena sudah suka, peralatan dan alat sudah punya. Dia kemudian iseng memposting lewat Facebook. ”Jadi di medsos kalau saya posting mainan, yang kasih like banyak, terutama Hot Wheels custom. Kalau posting kegiatan misalnya jalan-jalan malah sedikit,” ujarnya.
Pada 2010, mulai muncul pecinta Hot Wheels. Namun masih berupa produk desain pabrik yang original. Selain itu, penggemar dan anggota grup mayoritas sudah dewasa dan mandiri secara finansial.
Kemudian dia iseng memposting Hot Wheels yang sudah di-custom. Ternyata antusias cukup tinggi dan bahkan ada yang berani menawar. Waktu itu model mobil mainan yang di custom-nya seperti kendaraan di film Mad Max dengan kesan rebel dengan banyak variasi duri dan besi.
”Kalau dari clay saya suka bentuk tengkorak. Lha itu saya tempelkan di mobil mainan, dikasih efek darah dan karat. Jadi kesannya mobil horor,” bebernya.
Saat awal Instagram muncul, ternyata penggemar lebih banyak. Jika di Facebook jangkauan komunitas baru di Indonesia, lewat Instagram lebih dikenal komunitas Hot Wheels internasional.
”Dari Instagram banyak bule yang respek pada produk saya,” ujarnya.
Bahkan dari Instagram, dia banyak menerima informasi dan pengetahuan soal custom diecast. Kemudian ada kompetisi costum diecast baik nasional maupun internasional. Pertama kali ikut kompetisi kalah.
”Saya pelajari trik dan kesalahan saya kok sering kalah. Sampai pada 2015, saya coba lagi ikut lomba custom dan mulai menang. Termasuk kompetisi tetinggi yang diadakan oleh Jepang, saya juara dua. Spesialnya ada tanda tangannya Larry Wood, insinyur pertamanya Hot Wheels. Jadi pialanya dari Jepang, dikirim ke Amerika dulu, baru dikirim ke pemenang,” terangnya.
Setelah mendapatkan juara di kompetisi tersebut, mulai banyak order dari pecinta Hot Wheels internasional. Jika sebelumnya dari orderan lokal, sekarang tambah pesanan dari luar negeri.
”Kalau bule saya jual lebih mahal, minimal USD 150 termasuk shipping. Kalau yang pesan lokal rata-rata Rp 1 juta,” jelasnya.
Untuk biaya kirim ke Kanada atau Amerika Serikat, sekira Rp 350 ribu. Sedangkan jika ke Hongkong atau Jepang sekira Rp 220 ribu.
”Kalau pemesan dari luar itu mintanya cepat dan on time. Jadi saya batasi. Sebulan itu satu pemesan, kalau sudah rampung tinggal saya buka order lagi. Kalau lokal saya batasi lima pemesan sebulan,” tandasnya. (din/adi/ria) Editor : Syahaamah Fikria