Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Hidupkan Sejarah lewat Batik Tulis Wayang Beber

Damianus Bram • Kamis, 27 April 2023 | 15:00 WIB
EKSISTENSI: Wayang Beber dalam media batik tulis di salah satu pusat produksi batik di Laweyan, Solo. (ANNISA ELFIRA/RADAR SOLO)
EKSISTENSI: Wayang Beber dalam media batik tulis di salah satu pusat produksi batik di Laweyan, Solo. (ANNISA ELFIRA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM - Rentetan peristiwa perjuangan pahlawan Indonesia tidak boleh dilupakan. Agar selalu diingat, pengusaha batik di Laweyan ini mencoba membungkus kisah ini dalam media unik. Yakni batik tulis wayang beber.

MANNISA ELFIRA, Solo, Radar Solo

Lembaran cerita tokoh pahlawan Indonesia terpajang indah di salah satu gerai batik di Laweyan. Salah satunya yakni perjalanan Diponegoro saat berjuang untuk tanah air. Kisah tersebut dikemas unik dalam seni wayang beber dengan media batik tulis.

Berbagai konsep dan cerita pahlawan Indonesia akan diangkat. Karena saking banyaknya, proses pembuatan wayang ini masih berlanjut hingga saat ini. Nantinya jika kelar semua, Alpha Febela Priyatmono sebagai penggagas batik tulis wayang beber ini memiliki keinginan untuk menyandingkan karya seni tersebut dari periode waktu.

"Kebetulan kami baru bikin seri yang langsung bertempur dengan penjajah. Ini masih proses, masih jalan. Yang sudah itu Sultan Agung, Sultan Ageng, Diponegoro, Proklamasi, Bung Tomo, Supriyadi. Masih banyak yang belum jadi," beber Alpha saat ditemui di rumahnya.

Tampilan wayang beber ini tak terlepas dari batik. Sejumlah look batik dengan tema kontemporer tercipta. Karya ini sendiri didasari oleh kain mori putih. Lalu dibubuhi pewarnaan yang sama dengan batik. Tapi ternyata tekniknya berbeda. Yakni memakai teknik gradasi untuk menciptakan tingkatan warna cantik.

"Dalam karya ini terlihat ciri khas wayang beber yakni matanya keluar satu. Kemudian bentuk wajahnya lancip-lancip. Ini kami pelajari dari wayang beber tradisional, cuma ceritanya berbeda. Kemudian kami memilih wayang ini, karena hampir punah dan jarang (dimainkan, Red)," tambahnya.

Proses pembuatan karya wayang beber ini juga tak seperti membalikkan telapak tangan. Alpha harus riset dari buku-buku. Hingga berdiskusi dengan rekan-rekannya yang mengerti tentang sejarah.

"Ini nanti juga dimainkan. Wayang beber kan ada dalangnya. Ceritanya bisa pendek bisa panjang (per figur). Di samping untuk dokumentasi, juga berupaya untuk edukasi," jelasnya.

Bicara soal edukasi, ini berkaitan dengan inspirasi Alpha untuk memulai pembuatan karya ini. Hidup sebagai seorang dosen arsitektur, Alpha miliki banyak mahasiswa. Dalam salah satu mata kuliah, terdapat upaya untuk mengembangkan daerah atau kampung.

"Kebetulan kami di arsitektur. Ada salah satu tugas atau mata kuliah desain urban. Tapi kebanyakan dari mereka (mahasiswa) kalau ditanya potensi daerahmu apa, mereka tidak tahu. Tidak usah potensi lah, sejarah kampung tahu atau tidak.  Kebanyakan tidak tahu," bebernya.

Ini mengingatkan pada cerita Laweyan yang pernah kolaps. Kehilangan banyak artefak berharga karena masyarakat yang kurang memahami history. Sehingga belum bisa membedakan penting atau tidak artefak itu.

"Orang punya barang tidak bisa cerita. Orang bisa cerita tapi barangnya tidak ada. Sesuatu bisa punya arti kalau ada barang dan bisa diceritakan," tambahnya.

Di urban design, salah satu cara menggali potensi bisa dari sejarah. Ditelusuri untuk menemukan rohnya. Roh potensi dari suatu kawasan.

"Orang banyak melihat di sekeliling tidak ada potensi. Padahal potensi di Indonesia itu luar biasa. Itulah yang menggetarkan kami untuk mempelajari sejarah. Untuk membangkitkan kami di suatu tempat yang luar biasa," terangnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#wayang beber #Batik Tulis #Alpha Febela Priyatmono #inovasi batik #batik tulis wayang beber