Chromobotia Macracantus adalah nama latin ikan tropis asli perairan Indonesia itu. Ikan botia biasa hidup di aliran sungai di Sumatera dan Kalimantan.
“Digemari karena warnanya. Seperti loreng macan. Makanya nama lokalnya botia macan. Kalau sebutan botia badut sebetulnya sebutan orang luar saja. Karena coraknya mirip clown fish (ikan badut spesies ikan hias air laut, Red)," ucap Deo Rizky, owner toko ikan hias di Pasar Depok, Manahan, Banjarsari.
Selain warna sisik yang cerah dan menarik untuk dipandang mata, botia badut juga dicari karena merupakan predator alami hama keong yang biasa merusak vegetasi dalam aquascape.
“Makanya, yang aquascape-nya diserang hama keong, cari ikan ini untuk mengendalikan serangan hama,” ujar penghobi ikan hias asal Sukoharjo itu.
Untuk memelihara ikan botia, para keeper harus memperhatikan kebersihan air akuarium dengan rutin menggantinya sepekan sekali. Sebaiknya akuarium dilengkapi filtrasi yang baik dan diberi aerator.
"Pakannya bisa dengan pelet yang tenggelam. Tapi kalau mau pakan hidup seperti cacing juga bisa, kan basic-nya juga pemakan keong,” terang Deo.
Di alam, botia macan ada yang berukuran 35 sentimeter sehingga aman dicampur dengan ikan predator dalam akuarium komunal.
Soal harga, botia macan berukuran di bawah 10 sentimeter dibanderol Rp 50 ribu-Rp 60 ribu, sedangkan yang panjangnya 20 sentimeter, seharga Rp 450 ribu per ekor.
Harga yang relatif mahal itu dinilai wajar karena botia macan butuh waktu lama untuk tumbuh besar. “Ikan ini pertumbuhannya lambat. Bisa sampai tahunan untuk sampai ukuran dewasa,” ujar Deo. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram