Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Dari Berjualan Koran Malah Bisa Menabung dan Bangun Rumah

Damianus Bram • Senin, 1 Mei 2023 | 15:00 WIB
TANGGUH: Mariatno menawarkan Jawa Pos Radar Solo di simpang empat Manahan, kemarin. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
TANGGUH: Mariatno menawarkan Jawa Pos Radar Solo di simpang empat Manahan, kemarin. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM - Zaman boleh berubah, namun eksistensi koran tidak akan pernah pudar. Mariatno, salah satu pengasong Jawa Pos Radar Solo ini malah menuai berkah. Ketika banyak karyawan dirumahkan karena imbas pandemi, dia justru terselamatkan berkat berjualan koran.

A CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 siang saat Jawa Pos Radar Solo ini bertemu dengan Mariatno. Dia sedang duduk di bawah pohon rindang di sudut SPBU 44.57.101 Manahan sembari menyusun koran yang akan dia jual. Meski terik matahari menusuk kulit, tak menyurutkan pria yang akrab dipanggil Erik ini berjualan koran.

Dengan bantuan tongkat, Erik berjalan menyusuri ruas Jalan Ahmad Yani. Menjajakan koran dari satu kendaraan ke kendaraan lain yang berhenti di traffic light. Siang itu, dia membawa tumpukan koran Jawa Pos Radar Solo yang dia ambil dari salah satu agen di kawasan Fajar Indah. Biasanya butuh waktu 3 sampai 4 jam agar koran ini ludes terjual.

"Sering habisnya mas. Kalau sisa pun paling cuma satu. Paling laku juga untuk Jawa Pos ini. Banyak dibeli pembaca karena rubriknya lengkap. Ada beritanya nasional, internasional, dan berita daerahnya komplet. Apalagi Minggu dan libur tetap terbit," papar pria berusia 58 tahun ini.

Meski saat ini marak berita online, namun kata Erik, peminat koran masih banyak. Penjualan koran juga tetap laku. "Pas momen libur Lebaran ini laku keras. Ramai yang beli. Kalau hari biasa biasanya saat pagi berangkat kantor sama siang pas jam istirahat," ujarnya.

Pria bertubuh gempal ini mengatakan, berjualan di titik tersebut secara bergantian. Sebab selain dirinya ada pengasong lain. "Jadi kalau dia jualan pagi, saya jualan siang seperti ini. Tapi kalau dia jualan siang, nanti gantian, saya yang jualan pagi," tutur Erik yang sempat mengalami kecelakaan terjatuh dari atas gerbong kereta api di usia 7 tahun hingga menyebabkan kakinya terpaksa diamputasi.

Perjalanan Erik penuh liku. Setahun setelah kejadian itu, orang tuanya bercerai. Kemudian dia ikut neneknya. Setelah lulus sekolah, sempat merantau ke Sumatera. Namun, tidak lama dia memutuskan pulang kampung ke Klodran, Colomadu, Karanganyar untuk merawat orang tuanya.

Sempat bingung mencari pekerjaan, dia akhirnya berjualan minyak tanah keliling. Namun karena pemerintah mencabut subsidi minyak tanah beralih ke gas elpiji 3 kilogram, usahanya gulung tikar.

Dari situ, dia menjadi pengayuh becak. Lagi-lagi dia harus berhenti karena masifnya ojek online. Diapun lantas menjadi tukang ojek pangkalan. Lagi-lagi nasib sial menimpa Erik. Salah seorang penumpang malah membawa kabur sepeda motornya.

"Saya kemudian ditawari menjadi pengasong koran. Dikenalkan dengan salah satu agen koran. Kalau tidak salah 2020 lalu. Waktu flyover Purwosari awal-awal dibangun. Tentu saya mau. Ternyata benar kata orang, ketika satu pintu rezeki ditutup, maka akan dibukakan yang lain oleh Allah," tuturnya.

Dia merasa sangat bersyukur meski terkadang banyak orang yang memandang pekerjaannya sebelah mata. Apalagi tak lama dia menjadi pengasong koran, pandemi Covid-19 menyerang. Banyak perusahaan yang bangkrut hingga berimbas pada karyawannya yang kehilangan pekerjaannya. Sementara Erik masih bisa berjualan koran untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

"Setelah berjualan koran, hasilnya bisa saya tabung. Bisa buat beli motor lagi dan bangun rumah. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan waktu saya masih jadi tukang ojek atau pengayuh becak," ujar dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Jualan Koran #Pengasong Koran #Jawa Pos Radar Solo