A CHRISTIAN, Sukoharjo, Radar Solo
Ruang tamu rumah Elyas di Dusun Ledok, Desa Konokorejo, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, disulap menjadi tempat pembuatan miniatur bus. Sejak 3 tahun silam, dia menekuni pekerjaan baru ini. Saat pandemi menyerang, banyak karyawan perusahaan yang dirumahkan dan diberhentikan lantaran minimnya pemasukan perusahaan. Termasuk Elyas.
Elyas tak patah arang untuk menyambung hidup keluarganya. Dia banting setir merintis pembuatan miniatur bus berbahan akrilik. Awalnya hanya iseng sebagi hobi.
"Pertama iseng saja, tidak dijual. Hanya sebagai koleksi karena latar belakang saya adalah penggemar bus. Saya kerap naik bus dari Solo-Surabaya, Solo-Semarang atau Solo-Jakarta. Tidak ada tujuan, setelah sampai di terminal pulang lagi ke Solo,” kata dia.
Dari kegemaran sering naik bus ke berbagai kota ini, pria berusia 34 tahun itu memiliki banyak teman sesama penggemar bus. Mereka melihat karya miniatur bus buatan Elyas. Ini menjadi titik awal karier Elyas dalam menekuni pembuatan kerajinan minibus.
Awalnya, ia hanya membuat satu minibus untuk koleksi pribadi temannya. Saat itu, karyanya dipuji temannya. Lambat laun, banyak sesama penggemar bus yang memesan miniatur bus untuk dikoleksi.
“Saya akhirnya menawarkan minibus di media sosial (medsos) dan e-commerce sejak tiga tahun lalu. Sebagian pembeli justru paling banyak luar Jawa seperti Medan, Padang, Lombok, Makasar hingga Aceh,” ujar dia.
Kini, miniatur bus karya Elyas menembus pasar Malaysia. Ada pembeli asal Negeri Jiran itu memesan miniatur bus double decker lengkap dengan lampu bisa menyala dan replika mesin senilai Rp 900 ribu. Sementara harga miniatur bus ukuran kecil dibanderol dengan harga Rp 400 ribu sampai 500 ribu.
Elyas tak memungkiri proses pembuatan miniatur bus cukup sulit. Bahan yang digunakan untuk membuat miniatur bus seperti akrilik, kayu, lem, cat, hingga stiker sebagai penghias tampilan bus agar semakin mirip aslinya.
“Miniatur bus harus detail sehingga mirip bus asli. Mulai dari kursi penumpang, dashboard hingga toilet di bagian belakang bus. Bahkan, logo bus di kaca juga harus ditempel persis seperti bus aslinya. Pembeli juga tahu bagian-bagian bus, jika tidak ada mereka bakal komplain,” ujar dia.
Dalam sebulan, lanjut Elyas, rata-rata ia mampu merakit 15 miniatur bus. Keuntungan dari penjualan miniatur bus digunakan untuk menopang kehidupan sehari-hari.
“Saya percaya, Tuhan itu adil. Saya anggap ketika saya dipecat itu Tuhan memberi ujian. Tapi tak butuh waktu lama, ada rezeki yang lain," ujar sia. (*/bun) Editor : Damianus Bram