ANTONIUS CHRISTIAN, Solo, Radar Solo
Berbeda dengan para pelukis pada umumnya dengan menggunakan media kanvas, Setiawan memilih media kayu yang memunculkan warna berbeda dari lukisan cat.
Ya, seni ini dia beri nama pyrographi atau seni lukis bakar. Awalnya, kayu yang masih polos akan disketsa menggunakan pensil. Setelah sketsa jadi, barulah dia menggunakan alat kusus untuk membakar kayu sesuai dengan sketsa yang sudah digambar.
"Harus ekstra hati-hati. Salah sedikit saja bisa buyar, harus mengulang dari awal lagi. Jadi untuk melukis ini butuh konsentrasi tinggi. Ilmunya saya otodidak. belajar lewat YouTube. Butuh waktu 6 bulan agar bisa paham tekniknya," ujar warga Pajang, Laweyan, Solo, ini.
Alat bakar yang digunakan Setiawan untuk menyelesaikan karyanya ini seperti solder. Namun panasnya bisa diatur. Sebagai penghantar panas menggunakan kawat nikelin.
"Dulu pernah uji coba pakai solder. Tapi hasilnya jelek. Tidak sesuai harapan saya. Jadi gosong semua," tutur Setiawan.
Alasan Setiawan menggunakan alat khusus ini agar bisa memunculkan gradasi warna. Semakin panas alat tersebut, maka warna yang dihasilkan semakin hitam. "Jadi warna suhu rendah itu nanti yang muncul cokelat. Kemudian kalau suhu tinggi hasilnya hitam," ungkap bapak satu anak ini.
Untuk memilih kayu sebagai media lukis, Setiawan juga tak sembarangan. Biasanya dia menggunakan kayu pinus atau jati Belanda. Kedua kayu ini memiliki tekstur yang mudah terbakar kemudian coraknya yang unik.
"Yang terpenting warna dasar kayu ini putih. Jadi lebih cocok kalau untuk pyrographi," jelas Setiawan.
Untuk bahan baku kayu, dia mengatakan, tak mengalami kesulitan. Bahan ini dia dapat dari lokasi pembuatan mebel. Dengan memanfaatkan limbah-limbah mebel yang tidak terpakai.
Berapa lama untuk membuat lukisan tersebut? Setiawan mengatakan, untuk gantungan kunci dalam sehari dia bisa membuat 10 hingga 15 buah. Namun untuk ukuran lukisan butuh waktu sehari. "Pernah buat sampai lima hari. Karena harus menbuat foto satu keluarga," paparnya.
Sebelum menjadi seniman, Setiawan mengaku bekerja membuat batik lukis. Namun karena usahanya gulung tikar, dia ikut terdampak.
"Terus mikir caranya dapat uang bagaimana untuk makan anak dan istri, akhirnya saya terjun ke dunia ini," ungkapnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram