RADARSOLO.COM - Sosok Joko Siswoyo, 23, semasa hidup dikenal sebagai guru olahraga yang cekatan dan tertib. Sebelum tewas dibantai temannya dan jasadnya dibuang ke Bengawan Solo, guru MI Al Islam 3 Ngesrep ini tak pernah curhat apapun.
RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo
Suasana berbeda terasa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Islam III, Desa Ngresep, Ngemplak, Boyolali, kemarin siang (9/5/2023). Seusai salat Duhur berjamaah, siswa dan guru menggelar doa bersama di masjid madrasah setempat. Mereka membacakan tahlil dan QS Yasiin untuk mendoakan almarhum Joko Siswoyo.
Guru yang mengajar pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) dan les pencak silat ini dikenal kalem dan pendiam. Guru dan siswa sempat bertanya-tanya ketika Rabu lalu (3/5/2023) tiba-tiba dia menghilang tanpa jejak dan kabar.
"Gak pernah rasan-rasan. Pak Joko itu kerja di sini belum ada satu tahun, sekira 6 bulan, pas tahun ajaran baru kemarin. Dia mengampu olahraga di semua kelas. Kan muridnya sedikit hanya 75 anak dan bisa mengajar bergantian waktunya," terang Kepala MI Al Islam III Desa Ngresep, Ngemplak, Nur'aini Rohmah saat ditemui di madrasah setempat kemarin.
Sosok Joko dikenal kalem dan pendiam. Dia tak pernah mengeluhkan hal apapun. Baik masalah pribadi maupun masalah keluarga. Termasuk masalah utang-piutang pinjaman online (pinjol). Guru-guru juga tidak pernah mendapatkan teror dari pinjol.
Di balik sikapnya yang kalem, Joko tak cukup bisa membaur dengan guru-guru lainnya. Bahkan saat bercanda dengan menjodoh-jodohkan dengan guru lajang lainnya, Joko hanya tersenyum.
"Di sini saya anggap sebagai putra, partner kerja. Orangnya cekatan dan pintar. Saya terakhir minta buatkan ucapan untuk Kepala Kantor Kemenag Boyolali yang baru, Pak Taufiqur Rahman. Saya minta membuatkan desain pamflet untuk story (media sosial, Red). Senin (1/5) malam langsung dibuatkan. Di sini memang banyak guru muda dan pintar-pintar. Semuanya membantu saya, karena saya juga sudah tua. Dan dia (Joko) menonjol di bidang IT dan olahraga," kenang Nur'aini.
Joko juga menorehkan prestasi dalam Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah Aliyah (AKSIOMA) tingkat Kecamatan Ngemplak untuk cabang olah raga (Cabor) voli. Anak didiknya berhasil memboyong juara 2 putra. Dia juga dikenal sebagai pelatih pencak silat.
Saat di MI Al Islam 3, dia melatih pencak silat. Dia juga mengajar pencak silat di Asrama Haji Donohudan (AHD). Selama ini, Joko indekos di daerah Klodran, Colomadu, Karanganyar. Menilik kegiatannya mengajar pencak silat cukup padat.
"Masuk terakhir pada Selasa 2 Mei. Dia sampai sore di sekolah. Selasa itu kan persiapan untuk ikut tanding porseni di AHD, dan dia yang melatih empat siswa yang maju itu. Lalu Rabunya sudah tidak masuk sekolah. Padahal saat itu, madrasah ditinggal oleh tiga guru. Dia juga tidak pamit, tidak seperti biasanya," kata dia.
Selama ini, korban memang dikenal tertib. Tiap terlambat ataupun tidak masuk selalu pamitan dan memberikan alasan jelas. Nur’aini sempat mengirim pesan digrup WhatsApp guru. Menanyakan keberadaan Joko. Namun, tidak ada respons sama sekali. Bahkan chatnya tidak dibaca. Dia lantas meminta salah seorang guru untuk menghubungi korban. Hasilnya sama.
Hilangnya korban berlangsung hingga Kamis (4/5). Saat itu, tengah diadakan kegiatan halalbihalal. Lalu sekira pukul 11.00, sekolah mendapat telepon dari Polsek Ngemplak. Polisi menanyakan temuan mayat atas nama Joko Siswoyo apakah benar guru di madrasah setempat.
Nur’aini ingin memastikan dengan melihat kartu data diri korban. Polisi sempat tak ingin memberikan. Hingga akhirnya, sekolah mendapat foto KTP korban dan membenarkan jika jenazah tersebut guru di madrasahnya.
"Saat itu keluarganya juga belum tahu. Dan ternyata benar itu Pak Joko. Lalu polsek meminta kami memberitahukan ke keluarganya, kalau ada temuan mayat atas nama Joko itu. Tapi sampai sana rumah keluarganya sudah ramai, ternyata sudah dikasih tahu dari polsek setempat," terangnya.
Dia tak menyangka salah satu guru terbaik di madrasahnya mengalami kejadian mengenaskan. Sehingga sekolah memutuskan untuk menggelar doa bersama pada Selasa siang. Siswa kelas IV dan V yang awalnya belajar daring diminta untuk masuk sekolah. Guru dan siswa lantas menggelar tahlil seusai Duhur. Sekolah dan siswa merasa sangat kehilangan.
"Kami juga merasa kehilangan karena sosok beliau itu kreatif dan mendukung kemajuan MI Al Islam 3," ujar dia. (*/bun)