”Isitilahnya intelijen. Dulu namanya telik sandi atau mata-mata,” ujar Moch. Manshur Hidayat, ketua Paguyuban Pelestari Tosan Aji dan Pusaka (Pataka) Surabaya.
Alumnus FISIP Unair itu menyebutkan, hingga saat ini, dia memiliki 1.300 bilah keris. Seluruh tosan aji yang memiliki wujud berbeda dirawat secara apik. Bukan hanya peninggalan era Mataram, ketua pelaksana harian Paguyuban Senapati Nusantara itu juga mempunyai pusaka peninggalan kerajaan lain seperti Majapahit, Singosari, Pajang, dan Bali.
Selain didapat dari teman, tosan aji dibeli dari kolektor. Dia meyakini sebagian tosan aji memiliki “penunggu” di dalamnya. Upaya perawatan melalui prosesi jamasan dan warangan harus rutin dilakukan agar fisik benda pusaka dan batin pemiliknya tetap terjaga.
Dalam pembuatan keris, setiap empu selalu melakukan ritual khusus. Misalnya, tirakatan, semedi, dan berdoa, serta menggunakan kemampuan cipta, rasa, dan karsa. ”Jadi, saya percaya bahwa ada yang gaib dalam keris. Namun, bagi saya, Allah itu lebih Mahasakti,” tegasnya.
Menurut Hidayat, orang boleh percaya dengan kegaiban suatu benda pusaka. Namun, hal itu tidak boleh melebihi kepercayaannya kepada Tuhan. ”Intinya, jangan sampai musyrik,” tuturnya.
Selama puluhan tahun mengoleksi keris, banyak hal yang dialami Hidayat terkait dengan kegaiban. Saat membersihkan senjata, Hidayat pernah diganggu penunggunya. Keris obah atau bergerak sendiri. Namun, nyalinya tidak ciut. ”Niat saya baik dengan merawat penuh perhatian. Jadi, saya tidak takut,” kata Hidayat.
Sebagai kolektor, budayawan itu pun sering disambati banyak orang. Bahkan, ada yang meminjam keris untuk beberapa keperluan. Ada teman yang sengaja mendatangi Hidayat karena sulit menjual tanahnya. Dia ingin meminjam keris yang bisa melancarkan usaha.
”Spontan saja, saya pilih satu keris. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian dia bilang tanahnya sudah laku,” ujar Hidayat.
Dia meyakini bahwa bukan kerisnya yang sakti. Semua itu bisa terjadi berkat kekuasaan Tuhan. Selain meminta kelancaran usaha, ada yang mengaku kena guna-guna. Dia sakit-sakitan dan sulit sembuh. Orang itu lantas meminjam salah satu keris Hidayat lantaran diyakini bisa membantu penyembuhan.
Karena termasuk benda pusaka, Hidayat menegaskan bahwa perawatan keris tidak bisa asal-asalan. Tidak sekadar diwarangi dengan campuran batu arsenik dan air jeruk. Setiap bilah keris harus dijamasi (disucikan). Prosesi jamasan selalu sakral dalam sebuah perawatan benda pusaka. Bagi orang Jawa, jamasan dilakukan setiap 1 Sura.
Beberapa ritual dilakukan dalam proses jamasan. Jamasan dilakukan dengan ubo rampe seperti jajan pasar, wewangian (dupa dan minyak), air kelapa, bunga-bungaan (kantil, mawar, dan melati), serta larutan warangan. ”Selain memandikan keris, ada tumpengan atau doa bersama,” ungkap Hidayat.
Dia menuturkan, tumpengan dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur. Tujuannya, menyucikan diri. ”Yang pegang pusaka harus arif dan bijaksana. Jamasan mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik,” tandas Hidayat. (*/jpg) Editor : Damianus Bram