SEPTIAN REFVINDA, Solo, Radar Solo
Memasuki gang buku lawas di taman buku Alun-Alun Utara Keraton Surakarta, terlihat beberapa orang menebar pandangan dan membolak-balik halaman buku-buku lawas yang tertata di rak-rak di sepanjang gang itu. Ada ribuan buku yang terpajang.
Kios-kios buku tersebut nampak sudah terlihat reot. Kompleks buku lawas itu sudah berdiri sejak 1997. Beragam buku dijual di sana. Mulai dari majalah, buku agama, kebudayaan, pendidikan bahkan buku-buku lama yang sudah langka. Meski sudah terlihat usang, banyak buku yang ternyata merupakan cetakan lama yang justru banyak digandrungi pecinta literasi.
“Kalau ditanya masih ada tidak penikmatnya, pasti ada saja. Penikmat buku lawas ini tidak akan mati meski sudah beralih ke teknologi. Bedanya memang saat ini tidak seramai atau sejaya dulu,” ujar Iwan, salah satu pemilik kios di Solo.
Iwan mengungkapkan, kejayaan lapak buku lawas Solo dimulai dari zaman pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto hingga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Pada kejayaannya hampir puluhan buku terjual setiap harinya. Bahkan tak jarang pengunjung harus berdesakan untuk bisa memilah dan memilih buku incarannya.
“Kalau sekarang memang sudah jarang. Cuma satu dua. Tetapi setiap hari pasti ada saja yang datang cari buku. Mereka yang datang kebanyakan justru para ilmuwan, calon hakim, dan profesor yang maunya buku asli atau cetakan pertama,” ungkapnya.
Tak hanya itu, mahasiswa juga banyak yang datang mencari buku untuk penelitian. Mereka datang, lantaran mencari buku serta naskah kuno yang ternyata malah bisa ditemukan di sana. Buku-buku yang ada di lapak buku lawas Solo ini dijual dengan harga miring. Mulai dari kisaran Rp 5.000 - Rp15.000 saja. Namun, khusus buku tertentu yang masuk kategori langka dijual dengan harga sedikit mahal.
“Kalau untuk buku yang langka dan hanya ada beberapa saja kami jualnya sedikit mahal memang. Misal buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan sekitar 1980. Buku ini dianggap bahaya dan ditarik dari peredaran hanya beberapa saja yang masih punya dan berakhir di sini,” katanya.
Sebagai penjual buku yang 'istiqamah' Iwan tahu benar seluk beluk tentang pemasaran buku. Pernyataannya mungkin tak sepenuhnya benar, tetapi banyak juga hal yang tak keliru. Buku-buku lawas terus berputar dari penikmat buku, ke pengepul, hingga berakhir di lapak buku lawas. Dan nantinya buku tersebut akan kembali pada penikmat buku yang mengincarnya.
“Selalu berputar. Tak akan berhenti, banyak juga yang sengaja membeli banyak untuk mengisi perpustakaan di desa-desa seperti itu. Khusus untuk itu kami juga berikan harga jauh lebih miring lagi,” tutur Iwan.
Senada, Ami yang juga telah berjualan buku lawas puluhan tahun di Taman Buku Lawas Solo mengatakan, bahwa penikmat buku lawas selalu datang setiap hari. Meski diakui adanya perubahan zaman dan teknologi yang membuat lapaknya tak seramai dulu, namun dia meyakini bahwa penikmat buku selalu hidup dan akan terus berjalan.
“Kadang yang lucu itu, biasanya kalau tidak dicari buku itu ada. Giliran ada yang mencari dan mau beli justru tidak ada. Karena di sini bukunya ribuan, dan beragam jenisnya. Kalau jeli, bisa mendapat yang bagus dengan harga terjangkau,” imbuhnya.
Salah seorang penikmat buku, Siswanto yang saat itu tengah asyik berburu buku komik series yang menjadi idaman anaknya. Dia bukan kutu buku, hanya buku-buku tertentu saja yang dia minati untuk dibaca. Terutama buku jenis komik yang berseries.
“Kami sedang mencari buku -buku komik yang berseries. Anak saya penyuka buku-buku komik. Kebetulan ini juga sedang mengoleksi beberapa buku komik yang berseri. Kami ambil buku ini karena jika nanti sudah tidak minat bisa dijual lagi,” ucapnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram