Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Harsoyo, Puluhan Tahun Tekuni Usaha Kliping Koran

Damianus Bram • Senin, 5 Juni 2023 | 15:00 WIB
KONSISTENSI: Harsoyo sedang mengkliping koran di  rumahnya di Sondakan, Laweyan, Solo, Minggu (4/6/2023).(ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)
KONSISTENSI: Harsoyo sedang mengkliping koran di rumahnya di Sondakan, Laweyan, Solo, Minggu (4/6/2023).(ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM - Era teknologi makin berkembang. Masyarakat bisa dengan mudah mencari informasi lewat internet. Namun ini tak menyurutkan Harsoyo menjalankan bisnisnya. Di usia senja, dia setia berjualan kliping yang sudah dirintis sejak 1980-an.

A CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

Di rumah kecilnya yang berada di Kelurahan Parangliris V, Kelurahan Sondakan Kecamatan Laweyan, tepatnya di belakang Pasar Senggol Purwosari, tangan keriput Harsoyo menggunting artikel di lembaran surat kabar. Kemudian dia tempel menggunakan lem di atas kertas HVS ukuran A4. Setelah diangin-anginkan, kumpulan kertas ini digabung menjadi satu bendel.

Satu bendel terdiri dari 30 hingga 40 kliping. Dia menjualnya dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu per bendel. Tergantung kedalaman isi dari artikel yang dibuat media tersebut. Bandel berisi artikel ini disusun di atas gerobak. Pada bodi gerobak, tertulis: Sumber Ilmu Pengetahuan.

Di dalam gerobak, ternyata isinya masih sangat banyak. Ada sekitar ratusan bendel kliping berbagai tema. Harsoyo mengungkapkan paling banyak bertema Pancasila, kemudian pelanggaran HAM, resep makanan, hiburan, gosip, dan lain sebagainya.

"Per lembar saya jual Rp 5.000. Sumbernya dari koran-koran. Tidak harus koran baru. Koran lawas juga bisa, dibeli dipengepul. Sampai rumah dipotong, dipilah berdasarkan tema. Terus dicantumkan medianya apa, tanggal terbit, halaman, judul, kemudian beritanya. Per artikel satu halaman," urai dia.

Ya, hampir 40 tahun, Haryoso menggantungkan hidup dari berjualan kliping. Bisnis kliping ini dia rintis sejak 1984. Saat masih menjadi di Perhutani. Ide awal membuat bisnis ini bermula saat sang anak yang duduk dibangku kelas VI SD mendapat tugas membuat kliping.

"Kemudian teman anak saya ada yang minta dibuatkan. Terus malah satu sekolah malah minta tolong. Terus mau untuk membayar. Waktu itu per lembar harganya masih Rp 25 rupiah. Dari situ, saya pikir kalau ini bisa jadi bisnis. Bisa buat tambah-tambah penghasilan," tutur pria yang Pensiun dari pegawai Perhutani sejak 2004 ini.

Saat masih aktif bekerja, dia dibantu mendiang istrinya. Sepeninggal sang istri, sekarang hanya dia sendiri yang mau menjalankan bisnis tersebut. Dari kelima anaknya, tak ada yang mau meneruskan pekerjaan ini.

"Anak-anak gak mau. Sudah kuno. Yang bantu cuma cucu saya, itupun sekadar membantu mendorong gerobak ke tempat jualan," ujarnya.

Ya, Harsoyo sendiri menggelar lapaknya di trotoar Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di sisi barat salah satu rumah makan yang berjarak 50 meter dari rumahnya. Dia berjualan sejak pukul 18.00 hingga 22.00. Sedangkan pagi hingga sore, dia melayani pembeli di rumah.

Apakah masih ada yang membeli kliping? Harsono mengatakan ada, meski tak banyak. Sebab, membuat kliping masih masuk dalam kurikulum sekolah. Mayoritas konsumen kliping datang dari kalangan terpelajar untuk memenuhi kebutuhan akademik seperti tugas sekolah.

"Biasanya setelah kenaikan kelas. Hari pertama masuk kelas baru anak-anak disuruh buat kliping," ujarnya.

Sehingga, musim kenaikan kelas seperti bulan ini menjadi momen Haryoso menjala cuan. Dalam sehari, dia bisa mengumpulkan Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Sehingga dia mulai mengumpulkan tema-tema artikel yang biasa dibeli para murid.

"Kalau SD biasanya soal Pancasila. Terus kalau SMP soal norma. Nah, kalau SMA temanya macam-macam. Ada ekonomi, lingkungan hidup, hukum, sosial, tergantung jurusannya apa," ungkapnya.

Pembelinya tidak hanya berasal dari kalangan siswa saja, namun juga datang dari kalangan lain. Seperti pegiat PKK, PNS yang akan naik golongan, mahasiswa, sampai jaksa. Pesanan terakhirnya datang dari kelompok PKK yang meminta untuk dibuatkan empat kliping dari empat tema pokja PKK.

Diungkapkan Harsoyo, menjalankan bisnis ini tak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari semata. Namun juga sebagai terapi untuk orang seumuranya agar tidak cepat pikun. Dia mempercayai bila dengan terus membaca daya ingatnya tak tumpul.

Nilai plus lain adalah dia juga tahu dengan kabar terhangat. Baik di tingkat lokal Kota Bengawan hingga nasional. "Karena setiap memilih tema, saya baca satu per satu beritanya," kelakarnya.

Dalam obrolan dengan koran ini kemarin, Haryoso mengungkapkan bila dia dan koran seperti teman kecil. Sebab, saat masih duduk di bangku SMP, dia sudah aktif mengirimkan artikel di kantor media masa. Mulai dari puisi hingga cerpen. Dia pun mendapat upah dari mengirimkan artikel tersebut.

“Melihat perkembangan teknologi saat ini, mamang dari segi kecepatan koran kalah dengan media online maupun media sosial. Namun dari sisi ketajaman, maupun pendalaman materi berita, koran masih unggul. Jadi saya yakin umur koran tak akan mati ditelan zaman,” ujar Harsoyo. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Kliping Koran #Usaha Kliping Koran #Harsoyo #Harsoyo Usaha Kliping Koran