MANNISA ELFIRA, Solo, Radar Solo
Semangat Sugiyono untuk gowes sudah menggelora sejak dia masih duduk di bangku SMP. Hanya memakai sepeda besi, Sugi-sapaan akrabnya- berani melaju ke Jogjakarta pada 1982.
"Dulu masih belum semaju sekarang. Belum ada MTB, mungkin balap ada tapi balap besi. Ya ekonominya kurang mampu jadi seadanya," kata dia pemilik agen koran di Solo itu kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (8/6).
Jauh-jauh ke Jogjakarta, Sugi hanya berbekal uang Rp 5.000. Tapi pada zaman 1982, jumlah tersebut terbilang banyak. Tidak seperti saat ini, yang mungkin hanya cukup untuk cemilan.
"Terus waktu SMP itu tiap minggu gowes. Sini (Solo) ke Karangpandan. Kadang kalau libur semester ke Jogjakarta, kalau tidak ya ke Salatiga," tambahnya.
Saat gowes, Sugi tidak sendiri. Kadang dia bersamaan dengan teman-teman sebayanya di desa. Kadang teman-teman sekolahnya juga ikut.
"Kalau dulu itu memang sepedanya masih besi ya hampir setengah hari. Kalau sekarang tiga jam sudah sampai, sudah bagus-bagus sepedanya," imbuhnya.
Beranjak ke jenjang SMA, Sugi mulai upgrade sepeda. Sehingga dia berani melakukan perjalanan lebih jauh sekaligus menantang. Seperti ke Merapi dan Merbabu.
"Dulu saya di PGA (setara dengan SMA). Lokasinya di utara Radar Solo. Sekarang jadi MAN 2 Surakarta. Teman-teman saya semua sudah pada jadi guru agama, pegawai negeri, saya bakul koran. Tapi saya bersyukur dari koran bisa beli apa-apa," katanya.
Zaman SMA, Sugi memakai sepeda jenis RB. Tapi bukan yang mahal, harga sepedanya tergolong murah. Dengan sepeda itu, dia dan teman-temannya pernah ke Pulau Dewata. Pulang-pergi selama 12 hari.
"Dari sini pakai rute jalur selatan. Rutenya naik turun. Jadi waktunya habis di situ. Sampai Bali sudah kecapekan, jadi tidak bisa muter Bali sepenuhnya," ungkap ketua Palur Cycling Club (PCC) tersebut.
Sugi hanya stay di Bali selama tiga hari. Menyusuri berbagai destinasi yang datar seperti Tanah Lot, Pantai Sanur, Pantai Kuta, dan Denpasar. Memang tidak banyak, mengingat Bali punya banyak medan perbukitan.
"Yang datar kan Denpasar sama pantai-pantai. Kalau Bedugul itu kan tinggi, jadi capek. Nah pas tahun 2000, saya ke Bali lagi. Tapi saya akali dari Solo ke Banyuwangi naik kereta. Gowesnya dari Gilimanuk sampai muter (Bali) itu masih kejangkau semua. Soalnya kondisi masih fit," imbuhnya.
Selain Bali, Sugi juga pernah ke Jakarta pada 1990. Kala itu sejatinya dia dan teman-temannya akan pergi ke Lampung. Tapi ternyata hanya sebatas becandaan saja.
"Saya di Jakarta cuma seminggu karena jalannya lewat utara (Pantura) kan enak. Itu lebih cepat 2,5 hari saja sudah sampai Jakarta," tambahnya.
Kalau saat ini, Sugi memiliki jadwal bersama klubnya. Tiap Minggu mereka berangkat ke Karangpandan. Misal tidak ada kegiatan, dia lanjut Tawangmangu hingga Cemoro Sewu.
"Kalau sayanya seminggu tiga kali, minimal dua kali," katanya.
Soal tantangan gowes jarak jauh, Sugi mengaku hanya cuaca saja. Apalagi saat ini musim kemarau, panas sekali. Bahkan di musim hujan, Sugi juga tetap berangkat. Dia menyiapkan mantel tipis untuk melindunginya dari guyuran hujan.
"Kalau kondisi fisik tidak masalah. Tantangannya cuma cuaca," tambahnya.
Beberapa waktu lalu, Sugi baru saja meluncur dengan sepeda kesayangannya ke Surabaya. Tepatnya pada 3-4 Juni kemarin. Dia berangkat setelah meloper koran.
"Jadi selesai loper langsung gowes. Sekitar pukul 06.30. Nah, waktu kemarin di Surabaya itu sampai agak sore. Cari hotel kemudian Minggu pagi saya muter-muter bersama kenalan goweser Surabaya," jelasnya.
Bagi Sugi, gowes itu seperti menjadi belahan jiwa. Dari bergowes, dia mendapatkan banyak manfaat. Terutama kebugaran tubuh.
"Face (wajah) itu kelihatan sekali. Saya umur 54 tapi kata orang-orang fisik masih muda. Daya tahan juga di atas rata-rata. Di samping memang olahraga itu hobi, manfaat dari kesehatan juga ada," ujar dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram