SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Alunan musik keroncong samar-samar terdengar dari arah Segaran Sriwedari, Jumat (16/6/2023) malam. Permainan cak-cuk dan bas betot yang ciamik yang dipadu dengan melodi lembut seorang peniup flute itu mengundang rasa penasaran koran itu untuk mendekat ke area yang kini diterangi lampu-lampu hias warna kekunungan itu.
Segaran Sriwedari yang satu tahun terakhir ditumbuhi rumput ilalang dan tak tersentuh perawatan itu telah berubah jadi pangung dadakan. Kesan kumuh dan tidak terawat mendadak hilang dari area yang kala itu dipenuhi sejumlah penonton yang manggut-manggut menikmati sejumlah tembang andalan yang dibawasan para musisi keroncong.
"Acara ini kami mulai sejak akhir Februari kemarin, namanya Wungon Ing Segaran (Isian Hiburan Rakyat). Wungon itu artinya lek-lekan (melek, Red) ning Segaran Sriwedari. Karena konsepnya hiburan rakyat maka ada pelaku seni dan budaya yang terlibat untuk pentas," terang Cahyo Hardiyanto, penanggung jawab kegiatan saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Solo.
Meski kegiatan itu didanai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, anggaran yang disalurkan untuk menghidupkan kembali Segaran Sriwedari itu terbilang tidak banyak. Karena itu konsep kerja bakti dan gotong-royong digaungkan oleh para seniman dan budayawan yang terlibat di dalamnya.
"Sebetulnya cukup mendadak, persiapannya hanya seminggu. Alhamdulillah lancar dan bisa berjalan sampai empat bulan ini. Karena gotong royong maka konsepnya bukan pentas, tapi lebih ke pindah gladen (latihan). Soalnya kami juga hanya bisa memberikan sekadar ongkos transportasi plus minum gratis saja," terang dia.
Keterlibatan seniman tersebut diharapkan bisa mengambalikan fungsi Sriwedari sebagai pusat seni dan budaya seperti dulu kala. Dia masih ingat betul dengan gelaran musik rutin di THR Sriwedari zaman dulu. Begitu juga dengan pentas rutin grup musik keroncong yang sebelumnya digelar di Pendapa Sriwedari. Bermodal keinginan itu, para seniman berupaya memfungsikan Segaran Sriwedari sebagai ruang kerativitas bagi pelaku seni dan pelestari budaya di Kota Bengawan.
"Pengisinya beda-beda. Selasa itu Koes Plusan, Rabu dan Jumat keroncong, Kamis macapatan, kalau Sabtu musik kekinian akustik pop atau rock. Kami ingin kembali menghidupkan Sriwedari seperti dulu. Karena sudah tidak ada THR dan pendapa akhirnya memanfaatkan Segaran Sriwedari ini,” ujar dia.
Bahkan jauh sebelum itu, kata Cahyo, lokasi ini di era 1970-an jadi lokasi latihannya Congce atau Keroncong Pece. Grup musik keroncong yang semua anggotanya tuna netra. Ditambah untuk segaran ini juga memiliki nilai historis.
Pimpinan Orkes Keroncong Pancaran Nada (Sumber Trangkil) Edi Sunyanto mendukung penuh kegiatan tersebut sekalipun bisa dibilang gotong-royong. Dia dan seluruh anggotanya telah sepakat untuk sama-sama menghidupkan Segaran Sriwedari agar kembali menjadi pusat kegiatan masyarakat. Dia tidak mempermasalahkan jika hanya diberi uang transportasi asal bisa sama-sama bisa melestarikan Segaran Sriwedari.
"Kita hidupkan lagi ikon Sriwedari yang lama mangkrak. Kan tujuan kami tidak hanya mencari uang namun juga demi melestarikan musik keroncong sebagai warisan budaya asli Indonesia," hemat Edi.
Sesepuh di Segaran Sriwedari Ki Janthit Sanakolo membeberkan bagaimana kondisi Puntuk Segaran masih ditumbuhi semak belukar dan rumput ilalang. Para pegiat seni dan budaya seperti dirinya berinisiasi untuk menghidupkan dan melestarikan kembali aset tersebut. Semangat itulah yang akhirnya ditangkap oleh dinas terkait dengan upaya yang dilakukan saat ini.
"Sebelum ada kegiatan ini saya dan kawan-kawan pemerhati budaya sudah sering kegiatan di sana. Zaman masih tidak terurus. Kemudian ditindaklanjuti oleh dinas, gayung bersambut semangatnya sama. Ayo dibangun bersama-sama, ini upaya untuk menjaga aset ini agar tetap lestari," kata dia.
Dalam sejarah, Puntuk Talawangi digunakan untuk memilih Desa Sala sebagai lokasu baru keraton setelah pindah dari Kartasura. Dulu lokasi ini cukup tinggi untuk melihat dari kejauhan karena belum ada bangunan-bangunan tinggi seperti sekarang.
Kemudian dipugar di masa PB X. Kala itu PB X membangun sebuah bangunan di bukit di tengah segaran sebagai upaya pengingat peristiwa perpindahan keraton di masa lampau itu. Bangunan itu kemudian dinamakan Panti Pengesti Puntuk Segaran. Lokasi ini jadi panti pangestinya B X untuk bertemu masyarakat sekitar. Selain sarat sejarah, lokasi ini juga sarat filosofi karena mengandung unsur bertemunya segara dan gunung. (*/bun) Editor : Damianus Bram