SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Halaman Kantor Kelurahan Kadipiro kini lebih hidup. Terutama pada malam hari akan menjadi daya tarik bagi masyarakat yang melintas di sepanjang Jalan Samudra Pasai No. 33, Kadipiro, Kecamatan Banjarsari. Sajian organ tunggal beserta aroma sejumlah kuliner khas yang dijajakan warga setempat bakal mencuri perhatian bagi siapa saja yang melintas di kawasan itu.
Dari arah muka, pemain organ tunggal langsung mempersilakan para tamu untuk duduk di spot ternyaman pilihan mereka sembari menawarkan untuk bergabung menyumbang satu dua lagu untuk memeriahkan suasana.
“Program ini sudah hampir setahun berjalan. Kali pertama dibuka pada 7 Agustus 2022. Konsepnya kulineran sambil dengerin live music. Buka setiap hari dari Senin hingga Sabtu. Alhamdulillah masih bertahan hingga saat ini,” ucap Ketua Karangtaruna Kelurahan Kadiro Yena Anggar Wijaya saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Solo.
Program ini dinamakan Papine Mas Wiro. Atau kepanjangan dari Paguyuban Peningkatan Ekonomi Masyarakat Kadipiro. Sejatinya program ini tercetus dari obrolan ringan antar sejumlah muda-mudi karangtaruna dengan pemangku wilayah setempat. Sebagai kelurahan baru (pemekaran dari Kelurahan Kadipiro lama) para muda-mudi merasa tertantang untuk bisa merealisasikan program pemberdayaan masyarakat. Menimbang berbagai fenomena sulitnya ekonomi sepanjang pandemi lalu.
Obrolan santai kala itu ditindaklanjuti dengan menawarkan program kepada sejumlah warga. Respos yang baik dari masyarakat setempat akhirnya membuat pemangku wilayah menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan.
“Setelah kami tawarkan ke warga ternyata warga antusias. Akhirnya mulai disiapkan lokasinya dan semua kelengkapannya. Jadi masyarakat memakai di sini gratis lengkap dengan fasilitas tenda, listrik, dan air dari kelurahan. Jadi datang langsung bisa jualan. Mayoritas pedagang kuliner,” kata dia.
Sejauh ini minat warga Kadipiro untuk bergabung dalam program Papine Mas Wiro cukup tinggi. Namun hanya 19 pelaku UMKM saja yang bisa difasilitasi karena keterbatasan lahan. Stand UMKM ini disesuaikan dengan jumlah rukun warga (RW) di kelurahan itu. Agar tidak saling berebut, siapa yang menempati stand diserahkan kepada ketua RW masing-masing. Ketua RW itulah yang kemudian menawarkan kepada warga di wilayah dengan cara mufakat.
“Sementara ini hanya satu pedagang per RW. Nah, kalau ada yang tidak meneruskan bisa diteruskan warga lain dari RW yang sama. Kini tinggal 13 pedagang yang masih bertahan. Karena itu kalau ada warga yang ingin terlibat akan dipersilakan. Syaratnya jualannya tidak sama antara satu dan lainnya,” terang Yena.
Kehadiran Papine Mas Wiro ini cukup memberikan manfaat bagi warga Kelurahan Kadipiro. Meski tidak selalu ramai, para pedagang yang terlibat merasa beruntung karena telah disediakan lahan untuk memutar perekonomian.
Inilah yang dirasakan Supayani, 63, pedagang pecel gendar yang setia bertahan di berjualan di sana. Sebelum gabung di program tersebut, dia bersama suaminya dulu merupakan pedagang es di kawasan Manahan.
“Terpaksa tutup karena pandemi, suami juga sudah meninggal,” kenang dia.
Warga Kampung Kleco RT 02 RW 06 Kadipiro ini merasa sangat beruntung. Saat dia tak bisa kembali jualan es di Manahan, datang tawaran untuk masuk program pemberdayaan dari kelurahan itu. “Kalau rampai bisa sampai Rp 300 ribu per malam,” beber Supayani. (*/bun) Editor : Damianus Bram