Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kegigihan Warga Kampung Klaseman Ubah Area Kuburan di Pinggir Kali Menjadi Asri

Antonius Christian • Senin, 10 Juli 2023 | 16:47 WIB
MAKIN HIJAU: Gazebo dikelilingi taman asri di bantaran Kali Jenes di Kampung Klaseman, Laweyan. (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)
MAKIN HIJAU: Gazebo dikelilingi taman asri di bantaran Kali Jenes di Kampung Klaseman, Laweyan. (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Bicara soal kuburan di pinggir kali, pasti yang terlintas di pikiran kita adalah tempat yang horor serta kumuh. Mindset ini berubah setelah kita mengunjungi pinggir kali di kawasan Klaseman RT 02 RW 01 Kelurahan/Kecamatan Laweyan. Seluruh warga saling bahu-membahu menyulap kawasan tersebut menjadi taman nan cantik.

Aneka tanaman hias di bantaran Kali Jenes di kawasan Klaseman terlihat asri. Meski lokasi itu dekat dengan makam, tidak ada kesan seram. Justru di sana menjadi tempat bercengkrama warga sekitar.

Ide menghijaukan area kumuh menjadi asri ini mulai dilakukan sejak 2018. Ide ini muncul karena rasa rindu para tetua kampung melihat aliran Kali Jenes yang berada di belakang hunian mereka kembali mengalir jernih seperti zaman dulu.

"Dulu airnya jernih. Saya pernah bermain di kali, karena saya lahir di sini. Istilahnya kalau mau menangkap ikan itu tidak usah dipancing. Pakai tangan saja dapat karena bisa terlihat. Tapi tambah lama, tambah tahun kondisinya makin tercemar sampai sekarang. Kalau banjir meluap," urai Sudiyoko.

Hingga akhirnya Sudiyoko bersama sejumlah warga rembugan. Bagaimana mengubah image sungai dari kesan kumuh menjadi bersih.

"Minimal tidak jadi sumber penyakit. Ya kuncinya bersih. Setelah lingkungan bersih otomatis akan sehat. Maka seluruh warga bersepakat untuk mengubah lingkungan di sekitar sungai itu harus bersih," ungkapnya.

Menggugah kesadaran warga, lanjut Sudiyoko, bukan semudah membalikkan telapak tangan. Di awal-awal menjalankan proyek ini ada saja warga yang tak ikut. Mulai dari alasan capek bekerja, pergi bersama keluarga, dan lain sebagainya

"Tidak saya paksa, saya lebih kepada kesadaran masing-masing. Lama kelamaan akhirnya seluruh warga ikut terjun langsung. Setiap Jumat, kami semua turun ke sungai membersihkan aliran sungai. Kalau pas musim penghujan kami bersihkan area bantaran saja," ujarnya.

Kesan Honor Hilang Berubah Menjadi Tempat Nongkrong Asyik

Setelah bersih, mereka lantas mengubah kawasan tersebut menjadi taman di pinggir kali lengkap dengan gazebo. Tak hanya itu, kawasan tersebut juga dijadikan lokasi nongkrong bagi warga.

"Karena di sini area makam juga, jadi setelah ada keluarga yang ziarah, pasti mampir ke sini untuk istirahat," ungkap Sudiyoko.

Untuk menunjang taman tersebut, tembok-tembok warga sekitar juga dicat warna-warni hingga digambar dengan mural. Ini bertujuan untuk menarik wisatawan yang sedang berwisata di Kampung Batik Laweyan agar mampir di lokasi tersebut.

"Kami jadikan spot-spot selfie untuk warga luar," jelas Sudiyoko.

Sejumlah sampah yang tersangkut di aliran sungai tak dibuang begitu saja. Namun dimanfaatkan menjadi barang yang memiliki nilai jual. Contohnya sampah kain yang kerap tersangkut di pingir kali. Kain-kain ini lantas dicuci bersih, setelah itu dijemur. Setelah itu, kain tersebut dicampur menggunakan adonan semen kemudian dibentuk menjadi kerajinan.

"Sementara ada dua jenis. Kalau kainnya besar kami ubah menjadi pot tanaman. Kalau kecil jadi asbak rokok. Karena banyak akhirnya kami jual hasilnya," ujarnya.

Barang kerajinan tersebut dijual di bazar kampung yang digelar setiap Sabtu Pon setiap bulannya. Bazar kampung ini mereka beri nama Wajan Klangenan. Singkatan dari wadah jajanan klaseman, langen lan bogan.

"Seperti pasar malam, tapi tidak ada mainanya seperti sepur kelinci atau odong-odong. Jadi lebih ke bazar kerajinan dan kuliner jadul. Semua yang jual warga RT 02," urai dia.

Ditambah Sudiyoko, ke depan ada satu wacana untuk mengembangkan kawasan tersebut. Yaitu mengubah wajah makam kampung menjadi taman buah. Rencananya kawasan tersebut akan mereka beri nama kebun buan Patanjat atau panen tanpa panjat.

"Di sini ada dua makam. Makam umum untuk warga sekitar, dan ada makam milik trah PB (Paku Buwono) X. Yang kami ubah makam milik warga," turur dia.

Untuk tempatnya masih dikerjakan warga. Sedangkan bibit masih butuh tambahan bibit pohon jenis lainnya, sehingga nanti bisa beragam jenis buah. Warga sudah mengajukan ke pemkot agar mendapat bantuan bibit.

Atas kegigihan tersebut, beberapa kali kampung ini menjadi perwakilan kelurahan untuk lomba noto kampung. "Pernah mendapat juara 1 hingga berhasil menjadi nominasi mewakili tingkat provinsi," ujar Sudiyoko. (atn/bun/dam)

 

Editor : Damianus Bram
#kuburan #Kampung Klaseman #taman kampung