RADARSOLO.COM - Lebih dari sekadar event, temu Dalang Bocah Nusantara yang sudah kali sembilan digelar merupakan media membangun budi pekerti anak lewat wayang kulit. Seperti apa kegiatannya?
Alunan gamelan terdengar merdu di Pendapa Ageng Gendhon Humardani Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT). Mengiringi suara sang dalang yang berubah-ubah. Kadang berat hingga tinggi melengking.
Suara-suara tersebut keluar dari mulut bocah-bocah. Ya, sebanyak 119 dalang bocah dari berbagai penjuru Indonesia unjuk gigi pada kegiatan yang diinisiasi padepokan seni Sarotama.
Bertajuk Temu Dalang Bocah Nusantara 9, acara akbar itu digelar selama sepekan, 18-24 Juli. "Dari pukul 09.00 hingga 23.00 nonstop. Jeda untuk salat. Di agenda ini, seluruh peserta mendapatkan penghargaan," ujar Ketua Panitia Temu Dalang Bocah 9 Singgih Sri Cundomanik.
Dari pertunjukan seni itu, dalang bocah didorong melebarkan wawasannya. Mengerti bahwa terdapat berbagai ragam, corak, hingga gaya perwayangan di Nusantara.
Tidak kalah pentingnya adalah nuwuhke roso tresno alias menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya asli tanah air.
Temu dalang bocang Nusantara kali pertama digelar 2015. Rutin berkala setiap tahun ganjil alias dua tahun sekali. Hanya off pada 2021 karena Covid-19 mewabah.
"Kami ingin anak-anak lebih dekat dengan seni tradisi. Menumbuh kembangkan bakat minat mereka,” tutur Singgih.
Seni tradisi, lanjutnya, memiliki peran cukup penting. Yakni sebagai sarana membangun budi pekerti dan adab anak. Jika anak sudah tertarik, tentu akan patuh. Contohnya bagaimana supaya duduk anteng, bagaimana agar akhlaknya bagus, dan sebagainya.
"Sebetulnya itu (seni tradisi) menanamkan adab, budi pekerti pada anak. Soal materi, nanti dulu. Bisa disisipkan sedikit. Seperti titi laras-nya, kepekaan nada, gaya sabetan, dan lainnya. Tapi jauh dari itu, kami tanamkan dulu nilai-nilai penting (budi pekerti)," bebernya.
Hal tersebut bisa membantu orang tua yang kerap mengeluh karena anaknya tenggelam dalam pengaruh negatif perkembangan zaman. Mengembalikan fitrah anak.
“Banyak orang tua kewalahan pada tantangan teknologi sekarang ini. Nah, melalui seni pedalangan, anak bisa memaksimalkan kemampuannya. Tangannya bergerak, otaknya berpikir, matanya juga ngematne (fokus), dan sebagainya," terangnya.
Antusiasme orang tua pun membara pada agenda ini. Melihat seni tradisi tetap eksis di tengah gempuran internet. Di antaranya Meilisa.
"Ini acara yang bagus. Anak-anak dikenalkan dengan wayang. Apalagi zaman sekarang, tradisi sudah agak tergeser. Tapi lewat agenda ini, kami bisa melihat, oh….masih anak yang suka wayang. Bahkan pintar memainkan wayang," ujar ibunda dari Pradipta Surya Pinasthika.
Dalam agenda ini, Pradipta menyajikan lakon Anoman Duta. Mengisahkan Anoman menjalankan perintah dari Prabu Ramawijaya untuk mencari tahu kondisi Dewi Sinta yang berada di Kerajaan Alengka.
"Mungkin (pesannya) patuh pada perintah," kata siswa dari Sanggar Sarotama ini.
Bocah asal Wonogiri tersebut mempersiapkan penampilannya sejak dua pekan terakhir. Bukan hal sulit baginya untuk mendalang karena sudah dikenalnya sejak di bangku pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga Taman Kanak-kanak.
"Saya suka dalang Ki Bayu Aji Pamungkas. Banyaklah yang saya pelajari. Suluk-nya, , sabetan-nya, banyak lah," tambahnya.
Bagi Pradipta, yang paling menantang adalah suluk. Ibarat syair lagu. Nadanya harus sama dengan alat musik gender.
Sebab itu, Pradipta semakin giat berlatih. Sabetan, geprakan, dodokan, dan sebagainya. Cita-citanya menjadi dalang kondang. (nis/wa)
Editor : Damianus Bram