RADARSOLO.COM - Masyarakat Jawa masih memegang teguh sejumlah ritual atau tradisi kuno. Salah satunya membersihkan pusaka atau jamasan di malam 1 Suro atau Muharam. Ternyata, ada makna yang terselip dari tradisi jamasan tersebut.
Pemerhati Budaya sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) surakarta Tundjung W. Sutirto menjelaskan, dalam kebudayaan Jawa, pusaka sebagai visualisasi kekuasaan yang riil. Sehingga setiap pusaka punya sebutan tersendiri. Misalnya kyai atau kanjeng kyai ageng.
“Karena pusaka itu visualisasi yang menyatu pada diri manusia. Maka perlakuannya dianggap sama dengan manusia. Oleh karena itu, setiap memasuki tahun baru Jawa (malam 1 Suro), adalah waktu paling afdal untuk membersihkan diri, termasuk pusaka atau piandel yang lain,” kata Tundjung, belum lama ini.
Bertepatan dengan tahun baru, pusaka sudah bersih dalam makna simbolik. Dari situ, Tundjung menjelaskan terdapat koherensi antara malam 1 Suro dengan jamasan dalam hubungan transendental antara diri manusia dengan pusakanya. “Yakni untuk bersih dan memancarkan aura positif di tahun yang akan datang,” imbuhnya.
Jamasan berlangsung bukan tanpa aturan. Tundjung menyebutkan aturan memandikan pusaka ada ritual dan materialnya. Misalnya yang memandikan atau njamasi, biasanya seorang empu.
“Di keraton biasanya ditunjuk abdi dalem khusus. Seperangkat peralatan juga khusus. Di antaranya air kelapa, jeruk nipis, warangan, minyak, dan ratus. Memandikan pusaka itu harus paham pamor juga. Maka butuh ahli pusaka atau perkerisan,” bebernya.
Soal waktu, jamasan dilaksanakan bukan hanya saat malam 1 Suro saja. Tundjung menyebut waktunya beragam. “Ada yang sebelum, ada yang pas malam 1 Suro. Atau ada yang memandikan pada waktu-waktu selama Suro,” urainya.
Momentum 1 Suro ini ada pada era kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokysumo. Yakni setelah penggabungan tahun Saka dan Hijriyah, sekira 1643 Masehi. Esensinya diawali dari dalam keraton. Ini dijelaskan Pemerhati Sejarah dan Budaya Kota Solo Raya KRMAP L. Nuky Mahendranata.
“Jadi ini semacam gawe-nya keraton sebetulnya. Menjamasi dan juga melakukan ritual seperti labuhan-labuham semacam sedekah bumi di segala penjuru, dianggap sebagai pelindung dari keraton itu sendiri,” bebernya.
Mengapa begitu? Karena zaman dulu masyarakat menjadikan keraton sebagai punjuring budoyo. Atau sebagai kiblat dalam berperilaku, hidup bermasyarakat, dan bersosial. Karena itu, laku membersihkan pusaka itu juga diikuti masyarakat.
“Jadi kalau membersihkan pusaka itu, sejak zaman dahulu memang tiap bulan Suro. Pusaka dibersihkan lalu tradisinya diikuti masyarakat,” paparnya.
Selain malam 1 Suro, ada yang melakukan jamasan ketika weton (hari lahir). Ini menyesuaikan esensi dari pembersihan itu. Karena manusia Jawa juga menandai hal-hal itu untuk membersihkan diri.
“Karena manusia Jawa itu selalu tertib. Jadi kalau membersihkan sak kelingane (seingatnya). Itu kan tidak pasti kapan ngeresiki ne (membersihkannya),” tandasnya.
Selama jamasan, biasanya disertai doa memohon kepada Tuhan YME. Ini merupakan sarana. Seakan-akan membersihkan diri sendiri. “Karena bagi orang Jawa, pusaka atau keris itu seperti belahan jiwa,” imbuhnya.
Hingga saat ini, KRMAP Nuky mengaku masyarakat tetap ada yang melakukan ritual jamasan. Terutama yang masih memiliki pusaka. Memiliki di sini ada dua persepsi, yakni kiosan dari keturunan atau leluhur. Selanjutnya penggemar tosan aji.
“Kalau masyarakat umum ada yang jamasan, biasanya punya dari warisan. Dan mereka memperlakukan hal yang sama, ketika dulu orang tua atau leluhurnya melakukan jamasan,” ungkapnya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram