RADARSOLO.COM - Prosesi merias pengantin, bukan hanya menjadikan kedua mempelai tampil cantik dan tampan. Tapi ada banyak filosofinya. “Dukun” manten alias sang perias turut menjalankan laku prihatin dan mendoakan agar hajat syakral berjalan lancar.
Pakem merias pengantin adat Jawa tetap dipegang teguh Sumarni Sutrisno, 68, sejak 1980. Mulai dari prosesi siraman, midodareni, hingga rampungnya resepsi.
“Sudah ditanamkan oleh guru rias saya, bahwa menjadi perias itu ‘megang’ orang, orang yang menjadi raja sehari. Tidak boleh seenaknya, membersihkan diri luar dalam," jelas Ketua Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Boyolali, Jumat (28/7/2023).
Salah satu tahapan merias pengantin adat Jawa adalah melakukan sembogo atau sembaga, yaitu meniupkan asap ke mempelai perempuan. Sebelum itu, Sumarni harus laku prihatin dengan berpuasa. Minimal satu hari pada H-1 resepsi pernikahan atau saat midodareni.
“Asap itu agar ada aroma khas. Didahului dengan doa. Rambut halus di wajah dibersihkan. Tujuannya menghilangkan sukerto (sial) lalu dikerik alisnya. Rambut itu kemudian dikubur di depan rumah oleh bapak pengantin,” urainya.
Si empu hajat menyiapkan sasaji berupa nasi tumpeng, suruh, tembakau atau perlengkapan menginang, pisang raja satu tangkap, gula jawa satu tangkap, telur, ayam yang masih hidup kemudian diletakkan di tempat merias.
"Biar semuanya berjalan lancar. Itu (sesaji) seperti sedekah," katanya.
Malam jelang pernikahan, mempelai laki-laki nyantri alias tidur di rumah mempelai perempuan. Pernah kejadian tak terduga pada 1990. Pengantin pria melanggar adat yakni nyantri.
Setelah selesai prosesi sembogo, Sumarni menyarankan agar pengantin tidak bepergian.
"Tidak tahunya, manten kakung (laki-laki) dibawa pulang lagi oleh keluarganya. Paginya saat saya mau rias, malah terjadi kecelakaan. Saya kaget," kenangnya.
Pernah pula pengantin perempuan sakit dan lemas jelang hari H karena kurang istirahat. Lalu Sumarni meminta agar dilakukan sembogo, baru istirahat.
Lantaran tak kuat bangun, pembacaan doa dan sembogo dilakukan pengantin perempuan dengan posisi tiduran. Setelah diberi teh hangat, kondisinya kembali segar dan bugar.
“Kami prihatin sekali kalau ada kejadian seperti itu. Di adat Jawa, ketika malam (jelang ijab), ada Wahyu yang diberikan Allah kepada pengantin. Banyak berdoa dan prihatin,” jelasnya.
Peristiwa di luar nalar lainnya adalah ketika keluarga pengantin enggan menyiapkan sesaji. Entah apa sebabnya, sound system hajatan mati. Sudah diperbaiki, tapi tak ada hasil.
Salah seorang tetua desa kemudian meminta agar Sumarni ikut mendoakan. Awalnya dia bingung, karena selama ini doa hanya dikhususkan bagi sang pengantin.
"Ya sudah, pengantin dan keluarganya saya ajak berdoa bareng-bareng. Meminta pada Allah agar dilancarkan hajat pernikahannya. Tidak ada lima menit setelah berdoa, sound system bisa berbunyi. Memang di luar nalar, tapi kejadiannya seperti itu," urainya. (rgl/wa)
Editor : Damianus Bram