Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kisah Pasutri Pujiono-Herwin Pujihastuti, Bentengi Anak-Anak dari Budaya Modern lewat Sanggar Tari

Antonius Christian • Senin, 31 Juli 2023 | 16:33 WIB
KOLABORASI: Pujiono bersama anak didiknya. (Foto kanan), Herwin Pujihastuti mengajari tari anak-anak.
KOLABORASI: Pujiono bersama anak didiknya. (Foto kanan), Herwin Pujihastuti mengajari tari anak-anak.

RADARSOLO.COM - Tren budaya asing yang masuk ke tanah air membuat khawatir semua pihak. Termasuk pasangan suami istri ini. Agar budaya asli Jawa tak habis terkikis zaman, keduanya berinisiatif mendirikan Sanggar Gedhong Kuning. Di sanggar ini anak-anak dari usia dini dilatih tarian tradisi Jawa.

Puluhan anak terlihat barbaris di ruang utama gedung Grha Wisata Niaga, Sabtu sore (30/7/2023). Dengan selendang di pinggang mereka menanti aba-aba seorang pelatih yang berdiri di depan. Ketika musik mulai berbunti, anak-anak usia SD ini lantas mulai menari mengikuti instruksi dari pelatih.

Ditemui koran ini disela-sela memantau proses latihan, pemilik sanggar Pujiono mengatakan, dia bersama istrinya mendirikan sanggar tersebut pada 2018. Kala itu, budaya tarian luar sedang hits di kalangan anak-anak.

"Kalau anak ini tidak segera dilatih, mereka tidak akan tahu kebudayaan kita," ujarnya.

Sang istri yang juga merupakan guru tari bagi ibu-ibu PKK di Kecamatan Laweyan ini memiliki kekhawatiran yang sama. Akhirnya tercerus ide untuk membuat sanggar yang mereka beri nama Gedhong Kuning.

Nama tersebut dipilih karena Pujiono sering dipercaya sebagai cucuk lampah, atau penari yang mengiringi pengantin memuji pelaminan. Di saat mengiringi tersebut, tembang yang bawakan adalah Pangkur Gedhong Kuning, di mana liriknya mengandung maksud menolak bala.

"Harapannya, ketika bergabung dengan sanggar ini, anak-anak ini bisa membedakan mana budaya yang tidak cocok dengan identitas bangsa. Berganti dengan budaya yang merupakan tradisi kita," ujarnya.

Awal bediri, sanggar ini bermarkas di rumah Pujiono yang berada di RT 01 RW 06, Kelurahan Jajar, Kecamatan Laweyan. Muridnya berasal dari anak-anak yang tinggal di sekitar rumahnya.

"Waktu itu, jalan empat bulan ada 50 anak yang bergabung. Anak-anak seumuran SD semua," ungkapnya.

Berjalannya waktu, jumlah peserta didiknya terus bertambah. Hinga saat ini sudah mencapai 100 anak. Mulai dari tingkat balita hingga remaja.

"Paling kecil ada yang umur 3 tahun. Kemudian yang paling besar ada mahasiswa. Makin banyak yang bergabung ke sini mungkin karena kami sering memenangkan beberapa lomba serta aktif ikut kegiatan di Solo," ungkapnya

Lomba tersebut, lanjut Pujiono, antara lain Berhasil mendapat predikat sebagai penampil terbaik di Festival Wayang Cocah 2019, 2021 dan 2022. Kemudian juara 1 di Festival Bocah Dolanan Kota Surakarta. Setelah itu ditunjuk mewakili Solo ikut festival permainan tradisional tingkat Jateng dan berhasil menyabet juara juga.

"Tidak hanya lomba, kami juga aktif di beberapa kegiatan lain. Termasuk mendapat tanggapan (undangan pentas). Terakhir karawitan kami dipercaya mengiringi hajat mantu anak Panglima TNI (Laksamana Yudo Margono) di Balai Sarmuda, Jakarta bulan lalu," urainya.

Karena muridnya semakin banyak, lokasi basecamp mereka berpindah ke Taman Balekambang. Namun karena lokasi tersebut saat ini masih dalam tahap revitalisasi, maka sementara latihan pindah ke Gedung Grha Wisata. Ketika Balekambang rampung, maka akan kembali ke sana lagi.

Disinggung soal tantangan, Pujiono tak menampik cukup kerepotan mengajar anak-anak ketika mereka sedang tidak mood. "Namanya anak-anak belum punya pikiran yang matang, jadi harus sabar, ketika mengajarkan gerakan hal baru harus menunggu mood-nya baik," ungkap Pujiono. (*/bun)

 

Editor : Damianus Bram
#tarian jawa #Sanggar tari #Budaya Modern #kesenian #tren dunia #Sanggar Gedhong Kuning