RADARSOLO.COM - Siapa yang tidak tahu Srimulat? Grup lawak legendaris yang didirikan oleh almarhum Teguh Slamet Rahardjo ini, usianya sudah menginjak 70 tahun. Perayaan tujuh dekade ini ditandai dengan peluncuran buku Berpacu Dalam Komedi Dan Melodi Teguh Srimulat karya Herry Gendut Janarto.
Menghibur dan menggelitik perut. Itulah Srimulat. Grup lawak legendaris asal Kota Solo, yang didirikan almarhum Kho Tjien Tiong alias Teguh Slamet Rahardjo pada 1950 silam. Lawakan serta tingkah jenaka mereka, sangat candu di era tersebut. Itulah alasan mengapa masyarakat enggan melewatkan setiap aksi panggung Srimulat.
Kini, mengenang aksi panggung dan lantunan musik khas Srimulat, entah harus senang atau sedih. Mengingat banyak anggota seniornya yang telah berpulang. Di antaranya Gepeng, Bendot, Asmuni, Basuki, Timbul Suhardi, Mamiek Prakoso, Djudjuk Djuariah, Eko DJ, Bambang Gentolet, dan Gogon.
“Saat ini keluarga (anggota)Srimulat yang masih ada, kebanyakan (tinggal) di Jakarta,” kata Eko Saputro alias Koko, putra almarhum Teguh Slamet Rahardjo saat press conference di The Sunan Hotel Solo, kemarin (2/8/2023).
Tahun ini, Srimulat genap berusia 70 tahun. Mengobati rasa rindu terhadap para lakon Srimulat, para penggemar akan disuguhi rangkaian acara menarik dalam tajuk Srimulat Tak Pernah Tamat. Dipusatkan di Museum Keris Nusantara, 8 Agustus-8 September.
Agenda pertamanya adalah Pameran Wayang Golek Srimulat Abadi. Merupakan kolaborasi antara Museum Gubug Wayang Mojokerto, Museum Keris Nusantara, serta Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.
Mengapa dipilih wayang golek? Karena wayang golek wujudnya mirip dengan manusia. Ini diharapkan membuat nuansa kehadiran Srimulat lebih nyata. Seakan-akan Srimulat benar-benar hadir di pameran tersebut.
“Ini sekaligus untuk edukasi, agar masyarakat tahu. Bahwa di Indonesia pernah ada satu grup lawak besar,” imbuh Koko.
Perayaan tujuh dekade Srimulat juga diwarnai launching buku Berpacu Dalam Komedi Dan Melodi Teguh Srimulat, karya Herry Gendut Janarto. Sejatinya, buku ini pernah terbit pada 1990 silam.
“Saya sangat beruntung. Buku ini sebetulnya sudah berusia 33 tahun. Dulu bentuknya tidak seperti sekarang ini,” sambung Herry yang duduk menemani Koko.
Keberuntungan yang dimaksud Herry, karena di era 90-an merupakan masa kejayaan Srimulat. Personel Srimulat masih utuh dan berada di puncak karier.
“Waktu itu Pak Teguh masih sehat. Lalu saya datang kulo nuwun (ke rumahnya). Saya meminta izin untuk menulis buku,” terang Herry.
Perjuangan Herry agar bisa menulis buku tersebut, tak semudah membalik telapak tangan. Tidak instan. Karena dia harus bolak-balik ke kediaman almarhum Teguh di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo. Butuh waktu berbulan-bulan.
“Saya hanya menunggu. Saya tidak berani mendesak. Tapi kabar gembiranya, Pak Teguh akhirnya mengizinkan untuk dimulai (menulis buku),” papar Herry.
Buku Berpacu Dalam Komedi Dan Melodi Teguh Srimulat menceritakan sejarah dan lika-liku perjalanan hidup alhamarhum Teguh beserta Srimulat. Dulunya, grup lawak itu diberi nama Aneka Ria Srimulat. Sesuai nama istrinya, Raden Ayu Srimulat.
“Dasar pemikirannya sederhana. Bahwa dia (almarhum Teguh) mendirikan rombongan Aneka Ria Srimulat, sekadar untuk hiburan segar dan sehat bagi masyarakat. Selain itu untuk hidup tenteram, layak, dan bermartabat bersama segenap anak buahnya. Lainnya tidak!” ujar Herry. (*/fer)