Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Nurul Fatimah, Satu-satunya Siswa asal Solo yang Lolos IPDN: Gembleng Diri sambil Kerja Part Time

Antonius Christian • Senin, 7 Agustus 2023 | 16:57 WIB
KERJA KERAS: Nurul Fatimah (tengah) bersama Lurah Joglo Aliek Budiarta (kiri) dan Efendi Kusnanto.
KERJA KERAS: Nurul Fatimah (tengah) bersama Lurah Joglo Aliek Budiarta (kiri) dan Efendi Kusnanto.

RADARSOLO.COM - Berkali-kali gagal lolos tes di sekolah kedinasan tidak membuat Nurul Fatimah menyerah. Kegigihan anak yatim piatu ini akhirnya berbuah hasil. Tahun ini dia berhasil lolos sekolah kedinasan di bawah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tanpa embel-embel perantara apapun.

Mata Nurul Fatimah berkaca-kaca karena terharu bahagia ketika dia dinyatakan lolos sebagai mahasiswa di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Cita-cita dia masuk di sekolah kedinasan akhirnya tercapai.

Dia masih tidak menyangka bisa lolos setelah bersaing dengan ribuan calon mahasiswa lainnya tanpa melewati perantara apapun. Bagaimana tidak, dara kelahiran Solo, 26 Mei 2003 itu bukan berasal dari keluarga berada. Bahkan tergolong tidak mampu. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia masih duduk di bangku sekolah.

"Ibu meninggal 2016 waktu saya masih SMP. Kemudian bapak menyusul di 2019," ujar Nurul kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Setelah menjadi anak yatim piatu, bungsu dua bersaudara ini kemudian dirawat saudara almarhum orang tuanya di Joglo, Banjarsari. Tak mau merepotkan, sambil bersekolah, Nurul juga bekerja part time di salah satu restoran cepat saji di Kota Bengawan. 

Sebelum mencoba seleksi IPDN, sejak lulus SMA 2021, Nurul beberapa kali mencoba mendaftar ke sejumlah pendidikan kedinasan. Awalnya dia mendaftar taruni Akademi Angkatan Udara (AAU) Jogjakarta. Namun gagal ditahap awal. Dia juga sempat mendaftar pada ujian CPNS. Namun perolehan skor seleksi kompetensi dasar (SKD) tak memenuhi standar minimal

"Sempat daftar pendidikan masinis KAI juga, tapi gagal di tes kesehatan. Nah, 2022, saya coba lagi daftar taruni AAU, tapi tidak lolos di tes pantukir daerah. Gagal juga di kedinasan Kemenhub dan tidak lolos juga saat coba daftar bintara AU," ujar lulusan salah satu SMA swasta di Solo ini. 

Dari sederetan kegagalan itu, tak membuat Nurul patah semangat. Hingga akhrinya dia bertemu dengan Aliek Budiarta, lurah Joglo awal tahun lalu. Dari situ, Nurul diarahkan mencoba mendaftar sebagai taruni IPDN. Guna mempersiapkan diri, dia digembleng oleh Efendi Kusnanto, salah seorang PNS di lingkungan Pemkot Surakarta yang membuka kelas latihan calon taruna dan taruni. 

Pada hari pendaftaran IPDN, Nurul mendaftar di hari terakhir. Ternyata dia lolos dari seleksi administrasi. Pendaftaranya saat itu mencapai 1.000 orang. Kemudian dia juga lolos mengikuti seleksi kompetensi dasar (SKD) di Jogjakarta hingga menyisakan 105 orang. Kemudkan pada tes kesehatan pertama, menyisakan 70 calon. Dan Nurul termasuk salah satunya.

"Lanjut psikotes, gagal delapan orang, tersisa 62 orang. Kemudian ikut rangkaian pantukir daerah di Semarang. Tesnya antara lain kesehatan dua, kemudian pemeriksaan jasmani serta penampilan. Dari situ lolos 35 orang termasuk saya. Saya sendiri ada di urutan 28 dengan nilai total 445," urai Nurul dengan wajah bahagia.

Dia masih tak menyangka bila bisa lolos menjadi calon praja. Mengingat beberapa kali mengikuti tes kedinasan sempat gagal. "Ternyata gagal ini cara Tuhan untuk menguji dan menempa mental saya," ujarnya. 

Sementara itu, Aliek mengaku kali pertama bertemu dengan sosok Nurul di kantor kelurahan. Di saat pertemuan itulah diketahui kalau Nurul memiliki keinginan kuat masuk ke sekolah kedinasan. 

"Saya ingat pernah di posisi dia. Ibu saya juga kebetulan meninggal waktu saya masih SMP. Kemudian ayah saya juga cuma seorang limnas di Kelurahan Gilingan. Tapi saya berhasil lolos IPDN. Akhirnya saya arahkan dia masuk IPDN, akhirnya lolos. Ini keren karena satu-satunya yang lolos dari Kota Solo. Ini bisa jadi motivasi anak muda, bahwa selama mau berjuang, pasti ada jalan," imbuh Aliek. 

Sementara itu, Efendi Kusnanto mengatakan, sebagai mentor sejak awal menggembleng Nurul, dia percaya kalau dia akan lolos pendidikan.

"Karena keinginan kuat bisa dilihat dari perjuangannya. Dia ini kerja part time. Tapi untuk latihan tidak pernah bolos sama sekali. Padahal saya tahu, dia capek, tapi tetap tekun berlatih," ujar dia. (*/bun)

Editor : Damianus Bram
#seleksi IPDN #Nurul Fatimah #ipdn #sekolah kedinasan #institut pemerintahan dalam negeri