Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

HUT Ke-70 Srimulat di Museum Keris Nusantara: Cerita Sejarah Grup Lawak Legendaris dan Wayang Golek Anggota

Mannisa Elfira • Jumat, 11 Agustus 2023 | 16:36 WIB
NOSTALGIA: Pengunjung menikmati Pameran Wayang Golek Srimulat Abadi di Museum Keris Nusantaram, kemarin.
NOSTALGIA: Pengunjung menikmati Pameran Wayang Golek Srimulat Abadi di Museum Keris Nusantaram, kemarin.

RADARSOLO.COM - Grup lawak legendaris Srimulat kini tepat berusia 70 tahun. Mengenang dan mengobati rasa rindu penonton setianya, digelar Pameran Wayang Golek Srimulat Abadi. Berlangsung sebulan penuh di Museum Keris Nusantara.

Instrumental Whiskey and Soda karya Roberto Delgado, menyapa para pengunjung di Museum Keris Nusantara, kemarin (8/8). Tepat di hari perdana Pameran Wayang Golek Srimulat Abadi. Nadanya tidak asing bagi penikmat Srimulat. Karena sudah melekat dengan grup lawak legendaris yang lahir di Kota Bengawan tersebut.

Dulu ketika senandung tersebut berbunyi di televisi, jarang ada yang melewatkan. Malah masyarakat bergegas duduk di depan layar kaca. Menantikan lawakan khas ala Srimulat, yang selalu menggelitik perut.

Kini, musik tersebut diputar dalam Pameran Wayang Golek Srimulat Abadi. Merupakan kolaborasi antara Museum Gubug Wayang Mojokerto, Museum Keris Nusantara, serta Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta. Selama pameran, pengunjung akan disuguhi sejarah hingga sepak terjang Srimulat di belantikan hiburan Tanah Air, mulai 8 Agustus hingga 8 September. 

Pameran ini dibagi dalam beberapa ruangan. Memasuki ruangan pertama, pengunjung langsung disambut foto almarhum Teguh Slamet Rahardjo yang sedang memainkan alat musik tiup. Dia tak lain sosok pendiri Srimulat pada 1950 silam.

Di awal pembentukan, grup lawak ini diberi nama Aneka Ria Srimulat. Dicuplik dari nama istri Teguh, Raden Ajeng Srimulat. Selain foto, di ruang pertama juga dipajang gambar kartun dan poster-poster Srimulat di masa lampau. Termasuk sejumlah alat musik.

Atmosfer era keemasan Srimulat serasa dihadirkan kembali di ruangan tersebut. Mengingatkan kembali, bahwa dulunya Srimulat selain melawak juga kelompok orkes keroncong. 

“Ruangan pertama menceritakan sejarah Srimulat. Juga ada alat musik. Menceritakan bahwa dulu Srimulat itu cikal bakalnya bukan pelawak, tapi grup musik keroncong dulu,” kata Direktur Museum Gubug Wayang Mojokerto Zura Nurja Ana kepada Jawa Pos Radar Solo.

Di belakang alat musik, terpajang dua buah patung, yakni drakula dan Sundari. Menceritakan salah satu film Srimulat yang sempat booming di zamannya.

“Kemudian ada kaset-kaset Srimulat. Ada loket penjual karcis Srimulat. Itu menggambarkan suasana dulu kala waktu nonton Srimulat,” imbuh Zura.

Beralih ke ruangan kedua, dipajang belasan wayang golek dalam bingkai kaca. Sebagai pembuka, ada sosok Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengenakan kemeja kotak-kotak. Berdiri bersama 12 wayang golek para anggota Srimulat. Salah satunya sosok Djujuk Djuariah.

Sosok Djujuk mengenakan memakai baju nusantara berwarna biru. Salah seorang tokoh utama dalam Srimulat, yang merupakan istri kedua Teguh Slamet. Dia disunting setelah istri pertama Teguh meninggal dunia. Sejak saat itu, Djujuk selalu mendampingi Teguh dalam menghidupi Srimulat.

Selain itu, di ruangan kedua juga berdiri wayang golek sosok Teguh yang berdiri gagah sembari tersenyum. Teguh menggenakan kemeja abu-abu bergaris, dengan dasi tersusun rapi. Kemudian wayang golek Raden Ajeng Srimulat mengenakan pakaian warna merah.

Tak ketinggalan, wayang golek sosok anggota Srimulat lainnya. Seperti Asmuni yang terkenal dengan celetukan “hil yang mustahal”. Kemudian Tessy dengan peran transgender, serta Gogon dengan ciri khas rambut jambul dan kumis tengah ala Charlie Chaplin. Termasuk sosok Gepeng, Tarzan, Bambang Gentolet, Polo, Nunung, dan Basuki.

Menariknya, selain dibuat semirip mungkin dengan sosok aslinya, ukurannya agak berbeda dengan wayang golek lainnya. Di pameran tersebut wayang golek dibuat sebesar ukuran tubuh manusia.

“Ilustrasinya dari foto semua. Makanya kami buat semirip mungkin. Bajunya seperti ini, kebayanya seperti ini,” urai Zura.

Bukan tanpa alasan Museum Gubug Wayang membikin wayang golek sosok anggota Srimulat. Karena owner Museum Gubug Wayang Sundjojo Njoto, dikenal cukup dekat dengan Srimulat. “Jadi ingin bikin wayang golek Srimulat,” beber Zura.

Sementara itu, total ada 215 buah wayang golek yang menggambarkan tokoh-tokoh Srimulat. Namun, tidak semuanya di-display di Museum Keris Nusantara.

“Saya datang sama adik-adik. Cucu-cucunya (Teguh Slamet Rahardjo) juga datang. Kami teringat zaman-zaman (keemasan Srimulat) itu. Sambil nostalgia,” ungkap putra Teguh, Eko Saputro alias Koko yang hadir menikmati pameran. (*/fer)

Editor : Damianus Bram
#srimulat #Grup Lawak Legendaris #museum keris nusantara #Pameran Wayang Golek Srimulat Abadi