RADARSOLO.COM - Kompleks Makam kuno di Dusun Titang, Desa Pandeyan, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar ini tak asing bagi masyarakat Bumi Intanpari. Menjadi lokasi yang dikeramatkan.
Di lokasi setempat, dimakamkan seorang tokoh pendiri Desa Pandeyan dan Desa Karangmoho, Kecamatan Tasikmadu. Bernama Kiai Sirojudin aliasn Syeikh Jangkung.
Syeikh Jangkung disebut-sebut sebagai ulama yang menyebarkan agama Islam di era Kerajaan Pura Mangkunegaran.
“Kompleks makam kerap diziarahi warga. Bentuk nisannya berbeda dengan zaman sekarang. Ada yang menyebut bahan-bahan nisan biasa digunakan di zaman kerajaan,” terang Sekretaris Desa Pandeyan Andika.
Setiap tahun, Pemerintah Desa Pandeyan bersama masyarakat setempat rutin menggelar bersih desa di kompleks makam.
Adapun kegiatannya antara lain selamatan dan pentas wayang kulit yang merupakan peninggalan masa Kerajaan Kediri dan berlanjut ke masa Kerajaan Majapahit hingga abad ke-15.
“Saat selamatan, warga membawa tumpeng. Kemudian disantap bersama-sama di kompleks makam. Ya seperti wujud sedekah,” ungkapnya.
Sebelum kenduri digelar, lanjut Andika, warga dan peziarah mendoakan para leluhur yang dimakamkan di kompleks pemakaman setempat.
Untuk mengulik sejarah kompleks pemakaman kuno tersebut, Pemerintah Desa Pandeyan masih melakukan kajian menggandeng sejarawan dan komunitas budaya di Karanganyar.
Terpisah, Alvian Prasetya, anggota Komunitas Suket Lawu mengaku sempat melakukan penelitian di kompleks makam Syeikh Jangkung.
Dilihat dari bentuk nisan, kompleks pemakaman itu diperkirakan sudah ada sejak tahun 1700. Hasil sementara, di tempat tersebut juga dimakamkan Ario Joyo Puspito, salah seorang penggawa Raden Mas Said yang hidup di era masa peralihan Paku Buwono (PB) II ke PB III.
Ario Joyo Puspito disebut-sebut ikut mendirikan Kabupaten Karanganyar. (rud/wa)
Editor : Damianus Bram