Kelangkaan itulah yang menjadikan kelelawar albino dibanderol selangit. Hampir sama dengan satu unit motor baru.
Tegar Awan Sabrang Cakrawala, 32, baru saja mengirimkan satu ekor kelelawar albino kepada koleganya di Medan, Sumatera Utara.
Kelelawar “siluman” itu didapatnya dari seorang kawan di Wonosobo belum lama ini. "Kelelawar albino ini dari Wonosobo, masih tangkapan alam," ucapnya.
Karena asli tangkapan alam, pengiriman hewan eksotik itu harus dilengkapi dokumen karantina dan suntik rabies. “Sudah saya vaksinasi komplet. Penangananya harus hati-hati karena asli dari alam liar,” terang Tegar.
Kelelawar albino juga cukup agresif, karena nyaris tak pernah berinteraksi dengan manusia. Ketika memegangnya harus pakai sarung tangan agar aman.
Secara umum kelelawar jenis ini dikenal dengan istilah codot. Kegemarannya makan buah-buahan dan memiliki ukuran tubuh cenderung kecil.
"Kalau nama ilmiahnya saya kurang tahu, tapi ini lebih ke codot. Jadi bukan kalong (dengan ukuran tubuh lebih besar), walau sama-sama pemakan buah," terang dia.
Codot albino memiliki panjang tubuh 10-15 sentimeter dengan bentang sayap 20-25 sentimeter. Tegar biasa memberi pakan berupa pepaya, jambu biji, dan pisang matang.
"Di habitat aslinya, hewan ini dianggap hama karena menyerang hasil buah-buahan siap panen. Yang unik itu karena warnanya putih (albino, Red). Jadi warga setempat takut untuk membasmi karena dianggap codot siluman,” ungkapnya.
Di kalangan pecinta hewan eksotik, codot albino dibanderol dengan harga fantastis. Sebelum dikirim ke Medan, codot albino koleksi Tegar pernah ditawar Rp 15 juta.
"Seumur hidup, saya baru dua kali lihat codot albini. Pertama lihat unggahan di internet. Tapi warna putihnya agak kotor. Baru yang kedua ini benar-benar lihat secara langsung codot. Karena jarang, harganya ya suka-suka yang menjual," kata dia. (ves/wa)
Editor : Damianus Bram