RADARSOLO.COM - Sebagian kalangan anak muda mungkin masih beranggapan bahwa keroncong identik dengan musik kaum tua. Nah, untuk mengubah mindset itu sekelompok anak muda di Kota Bengawan ini membuat komunitas pecinta musik keroncong.
Sayup-sayup langgam lawas terdengar di gang kecil Kota Bengawan malam itu. Tampak sekelompok anak muda berkumpul dengan instrumen musiknya. Memainkan beberapa alunan irama yang identik dengan genre musik tertentu. Ya, itulah Komunitas Keroncong Muda Surakarta (KKMS). Sebuah komunitas yang menjadi wadah generasi muda untuk belajar. Serta mengekpresikan minat terhadap musik yang mulai populer sejak abad 20-an ini.
Novan Daru Anggoro Seto, sang penggagas KKMS mengatakan, komunitas ini lahir atas keresahan dia melihat apresiasi anak muda yang menurun terhadap musik keroncong.
"Awalnya kami nongkrong bersama pecinta musik keroncong. Lalu berpikiran, bagaimana agar anak muda lain juga menyukai keroncong. Jadi kami bentuk KKMS ini," tutur dia kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (30/8).
Pemuda berusia 25 tahun itu tak memungkiri, Solo sebagai ibu kota keroncong telah melahirkan banyak seniman besar. Gesang dan Waljinah adalah sebagian contoh kecilnya. Selebihnya, masih terdapat tokoh seniman lain yang ikut menjunjung eksistensi musik hingga kancah internasional.
Dengan begitu, kata Novan, penting bagi para generasi muda untuk ikut mewarisi tradisi tersebut. Melalui regenerasi agar musik keroncong tidak punah di tengah hiruk pikuk modernisasi.
"KKMS adalah ruang untuk mengembangkan bakat-bakat muda, agar regenerasi terus berlangsung. Ruang ini terbuka bagi semua orang," tutur Novan yang juga ketua KKMS tersebut.
KKMS sendiri terbentuk sejak 19 Februari 2019. Meski baru berjalan empat tahun, komunitas ini telah beranggotakan lebih dari 60 orang dari berbagai kalangan usia. Mulai dari SD hingga yang sudah bekerja semua membaur untuk belajar. Saling berbagi ilmu terkait permainan musik khas Kota Bengawan Solo ini.
Novan menjelaskan, musik keroncong dibagi empat jenis menurut pakem dan strukturnya. Di antaranya, keroncong asli, keroncong langgam, keroncong stambul, dan keroncong Jawa.
"Kami fokus pada aransemen keroncong asli dulu, agar bisa punya modal bermain alat musik yang kuat. Namun tak jarang kami juga selipkan garap aransemen baru," imbuh dia.
Komunitas ini telah tampil ke sejumlah event di dalam maupun luar kota. Bahkan, tiga tahun silam berhasil menghelat konser perdananya secara meriah. Itu membuktikan bahwa musik keroncong mulai terangkat di semua kalangan.
"Musik keroncong sudah mulai inovatif dan kreatif dengan banyak aransemen yang muncul. Beda dengan zaman dulu yang hanya sesuai pakem. Saat ini keroncong berkembang dan itu merupakan fenomena luar biasa," imbuh Novan.
Lebih lanjut, Novan juga berharap perkembangan musik keroncong bisa semakin luas. Apresiasi masyarakat menjadi tonggak penting agar musik ini tetap populer.
"Indonesia ini punya musik yang khas beda dengan yang lain. Hilangkan mindset keroncong malah membuat kita ngantuk dan membosankan. Keroncong adalah warisan menarik dan harus dijaga. Harapannya, masyarakat terus mengapresiasi musik tradisional ini," ujar dia. (maul/bun)
Editor : Damianus Bram