RADARSOLO.COM - Mendalami drama teater, bagi Lik Udin, bukan hanya sekadar berakting. Lebih dari itu, dia mempelajari banyak hal. Selain belajar tentang kehidupan, lewat teater juga belajar bagaimana bisa berempati kepada sesama. Pesan inilah yang ingin disampaikan kepada anak-anak lewat bermain drama teater.
Sejumlah anak-anak sedang bermain peran di panggung. Mereka tampak luwes memeragakan dialog-dialog yang berisi aktivitas sehari-hari. Namun, dalam dialog ini ada pesan yang ingin disampaikan untuk senantiasa mencintai tanah air.
Lik Udin yang memiliki nama asli Udin Oepewe inilah sebagai penggagas dan pembina anak-anak ini dalam bermain teater. Dia mengaku sudah sejak lama menyukai drama teater. Meski berlatar belakang pendidikan, Lik Udin akhirnya tertarik menyelami teater. Bahkan, ketika lulus dari perguruan tinggi, dia bertekad untuk membentuk sanggar teaternya sendiri.
Tapi sayang, kala itu belum banyak orang yang menyukai drama teater. Namun, pada akhirnya secara perlahan dia berhasil mendirikan sanggar untuk menaungi anak-anak yang ingin belajar drama teater. Dari situ, dia aktif menggelar latihan bersama anak-anak di kampungnya.
“Sempat awal-awal itu anak-anak hanya latihan saja, tanpa berani tampil di publik. Akhirnya ada kesempatan saya daftarkan ikut lomba dan alhamdulillah menang. Dari situ anak-anak mulai senang bermain drama teater,” ungkap lulusan pendidikan bahasa dan sastra daerah UNS ini.
Selain mengajarkan drama teater, lewat drama Lik Udin juga ingin menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi muda. Dia mengatakan, rasa cinta tanah air dan budaya dapat dipupuk lewat drama teater.
Memiliki jiwa seni dan pemikiran yang luas, Lik Udin percaya jika belajar cinta tanah air tidak selalu dilakukan oleh guru pendidikan kewarganegaraan (PKn). Namun juga bisa dimulai dari niat dan tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Tiadak melulu lewat buku, menanamkan cinta tanah air kepada generasi muda dapat dilakukan dengan cara-cara yang unik dan kekinian.
Salah satunya melalui bermain drama. Anak-anak secara langsung belajar mengenai peran-peran tokoh-tokoh cerita rakyat dan pahlawan negara. Drama yang menggunakan bahasa Jawa, dan mengusung cerita rakyat dimaksudkan agar anak-anak mengerti dan terbiasa menggunakan bahasa Jawa. Mengingat Kota Solo adalah Kota Budaya seperti tagline yang diusung yakni Spirit of Java.
“Seni bermain teater nyatanya juga dapat menumbuhkan budaya srawung yang mulai ditinggalkan generasi muda karena pengaruh gadget. Secara tidak langsung mereka juga belajar Bahasa Jawa,” ujar ketua Sanggar Pelangi ini.
Sebagai salah satu sanggar budaya di Solo, dia juga tengah konsen untuk menjaga eksistensi bahasa Jawa di kalangan generasi milenial. Salah satu caranya menyelenggarakan Pelangi Art Festival pada 2023. Mengusung tema Menanamkan Nilai-Nilai Cinta Tanah Air Melalui Cerita Rakyat. Kegiatan ini dilaksanakan pada 31 Agustus hingga 2 September lalu bertempat di Sanggar Pasinaon Pelangi, Mojosongo, Surakarta.
Dia mengatakan, bukan hal mudah untuk mengajarkan dan mengajak anak untuk berani tampil diatas panggung. Perlu ada pendekatan khusus untuk bisa mengambil hati anak-anak agar mau untuk mengikuti arahan dan berani tampil percaya diri di depan umum.
“Kesulitan-kesulitan ini yang menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk tetap konsisten mengajarkan anak-anak bermain drama,” ungkapnya. (ian/bun)
Editor : Damianus Bram