RADARSOLO.COM - Sebuah makam di kaki Gunung Merbabu banyak dikunjungi peziarah. Adalah makam Hyai Syeh Kerto Muhamad dan Hyai Sodruno. Tempat ini banyak menyimpan kisah misterius.
Makam yang letaknya di Dusun Gunungsari, Desa Senden, Kecamatan Selo ini disebut-sebut ditunggu macan putih. Terkadang berubah wujud menjadi kakek-kakek.
Dua makam tersebut terletak di atas bukit sisi barat Gunung Merbabu. Dinaungi cungkup seluas 4x5 meter persegi. Ada empat makam di dalam cungkup tersebut.
Begitu memasuki cungkup, aroma kemenyan dan bunga mawar menyeruak. Terlihat pula bekas dupa.
Kaur Kesra Desa Senden Puryanto mengatakan, tak ada yang berani punya niatan buruk di makam tersebut. Para peziarah merasakan ada energi positif setelah ritual di tempat itu.
"Ada yang bilang ditunggu macan putih. Kalau tidak ya kakek-kakek. Memang sudah diceritakan pernah ada yang melihatnya,” jelasnya akhir pekan kemarin.
Cerita tak kalah misterius, yakni adanya seperangkat gamelan yang disimpan di kompleks makam. Lalu ada warga meminjam gamelan tersebut untuk hajatan.
Namun karena kurang patuh terhadap pantangan saat meminjam gamelan, gamelan itu akhirnya muksa alias menghilang tanpa bekas.
Harjo Warsidi, sesepuh Dusun Gunung Sari, Desa Senden, Kecamatan Selo sekaligus juru kunci makam mengatakan, para peziarah dilarang berbicara kotor maupun berniatan buruk.
Diceritakan, pada 1950-an, ada warga yang melakukan ritual dengan tidur di kompleks makam. Namun, ternyata warga itu memiliki niat tidak baik, kurang ikhlas dan tidak bersih hatinya.
Nah ketika terbangun dari tidurnya, warga tersebut telah pindah lokasi jauh dari makam dan permukiman.
"Kalau memiliki tujuan jelek (jahat,Red) tidak boleh ke sini. Seumpama (nekat), langsung diguwak (dipindahkan,Red) dari sini. Dibeto dateng pundi gitu raganya (dipindahkan raganya), pindah tempat. Itu pernah terjadi,” paparnya.
Biasanya apa saja tujuan peziarah? Harjo menyebut beragam. Di antaranya dilancarkan rezeki dan jodohnya. Sebelum melakukan ritual, peziarah menemui Harjo untuk didampingi ke kompleks makam.
Ketika peziarah memiliki niat buruk, Harjo langsung menolaknya. "Ya nggak berani bantu. Zaman rumiyin (dahulu) sampun kedadosan (pernah terjadi). Saya hanya mengantarkan saja. Tergantung keinginannya apa,” jelasnya. (rgl/wa)
Editor : Damianus Bram