RADARSOLO.COM - Sempat mati suri akibat pemasaran macet, industri rumahan sarung tenun goyor di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon perlahan bangkit. Bahkan akan memperluas pangsa pasar mereka hingga ke negara-negara di Timur Tengah.
Di sebuah gang yang padat penduduk di Kelurahan Semanggi, Pasar Kliwon, kemarin (13/9), terdapat industri rumahan yang bergelut di bidang tekstil. Namanya CV. Botol Mas. Industri ini intens membuat sarung tenun goyor. Menariknya, produksinya masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) alias manual.
Masuk ke area bangunan utama pabrik yang lumayan luas, terdapat puluhan unit ATBM. Masing-masing ATBM terpasang benang pintal berwarna-warni. Menyesuaikan warna dasar dari kain sarung goyor pesanan pelanggan.
Masuk ke bagian belakang, terdapat beberapa bak penampungan air. Letaknya bersebelahan dengan sebuah sumur timba tua. Fungsi dari bak tersebut untuk proses pewarnaan sarung tenun goyor.
Kembali ke bangunan utama, hanya terdapat seorang pekerja wanita yang bergelut dengan ATBM. Dia dengan teliti memintal benang menjadi kain tenun. Sedangkan ATBM lainnya kosong melompong.
Maklum, industri rumahan ini sedang beranjak untuk bangkit. Setelah sempat menghentikan produksinya selama enam bulan. Dampak dari macetnya pemasaran, awal tahun ini.
Padahal dulu, industri ini sempat menemui masa kejayaannya. Setelah banjir orderan dari negara-negara di Afrika.
“Kami mengirimkan dulu sarung tenun goyor ke distributor di Jakarta. Baru kemudian diekspor ke luar negeri. Dulu pangsa pasar kami bisa tembus sampai Afrika. Sekali kirim bisa 10-40 kodi sarung,” ungkap manajer keuangan industri rumahan tersebut Suherman, kemarin.
Setelah vakum setengah tahun, perlahan industri rumahan ini bangkit medio Agustus lalu. “Berghenti produksi karena pemasaran kurang baik dan kena paceklik. Ini kami baru mulai menata lagi untuk persiapan produksi,” imbuh Suherman.
Kualitas sarung tenun goyor bikinan industri rumahan tersebut bisa diacungi jempol. Tak kalah dengan usaha serupa di berbagai wilayah di eks Karesidenan Surakarta. Mengingat untuk sehelai sarung, memakan waktu produksi sekira 15-30 hari.
“Proses pembuatan sarung goyor butuh waktu lama. Ada sekira 16 tahapan dalam produksinya,” beber Suherman.
Proses pembuatan sarung tenun goyor diawali dengan pemilihan benang. Benang terbaik yang dipilih, lalu diwarnai putih terlebih dahulu. Dilanjutkan proses pewarnaan benang sesuai permintaan konsumen.
“Kenapa diberi warna putih? Supaya hasil pewarnaan berikutnya sempurna. Setelah itu, benang dijemur dan beberapa bagian digulung menggunakan alat bernama bomb,” papar Suherman.
Proses berikutnya, menentukan benang dasar dan benang untuk motif. Khusus yang terakhir, namanya benang lusi. Proses produksi untuk benang lusi ini lebih panjang daripada benang dasar.
“Baru kemudian menentukan pola dan desain motif. Proses ini ada timnya sendiri. Dilanjutkan proses di-bress, colet, dan pemaletan. Setelah semua dialui, benang siap untuk ditenun,” ujar Suherman.
Tak mengherankan dengan proses panjang dan melelahkan ini, harga sehelai sarung dibanderol cukup mahal. Sekira Rp 300.000 per helai sarung.
“Semoga setelah memulai produksi lagi, pangsa pasar kami lancar. Rencananya kami akan ekspor ke Saudi Arabia,” bebernya. (ul/fer)
Editor : Damianus Bram